Kasih yang Berasal dari Allah

Inilah kasih itu: “Bukan kita yang telah mengasihi Allah, melainkan Allah yang telah mengasihi kita” (1 Yoh 4: 10a).

Banyak situasi di dunia saat ini bertolak belakang dengan kasih: peperangan, kekerasan, kebencian, dan saling menghancurkan. Bahkan, membalas kejahatan dengan kejahatan sering dianggap hal yang wajar. Dalam keadaan seperti ini, muncul pertanyaan: apakah kasih itu masih ada?

Sabda Tuhan menegaskan, bahwa kasih itu tidak berasal dari kita, melainkan dari Allah sendiri. Kasih Allah berbeda dari kasih dunia. Ia menerima kita apa adanya, tidak menunggu kita jadi sempurna terlebih dahulu. Ia tidak membalas kejahatan, melainkan mengampuni, dan kasih-Nya nyata melalui pengorbanan-Nya di salib.

Peperangan yang terjadi di dunia ini sebenarnya mencerminkan ‘peperangan’ dalam hati manusia: iri hati, egoisme, dan keinginan untuk menang sendiri. Karena itu, perubahan sejati harus dimulai dari dalam hati.

Ketika kita membiarkan kasih Allah tinggal dalam diri, kita dimampukan untuk mengampuni, bersabar, dan tidak mudah membenci. Mungkin kita tidak dapat menghentikan peperangan di dunia, tapi kita dapat menghadirkan damai melalui hati yang dipenuhi kasih Tuhan.

Semoga melalui hidup kita, kasih Allah semakin nyata dan jadi sumber damai bagi sesama.

Sr. Genevie Marie, P. Karm

Rabu, 29 Juli 2026
1 Yoh 4: 7-16 Mzm 34: 2-11 Yoh 11: 19-27 atau Luk 10: 38-42

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com