Gula

“Hidup ini tetap manis, meski terbalut dengan ratap dan tangis.” -Rio, Scj

Hidup itu seperti gula. Kalau kopinya pahit yang disalahin gula, kurang gulalah, pelit gulalah. Tetap yang salah itu gula. Sebaliknya, jika kopinya manis banget. Gula lagi yang disalahkan. Jika takarannya pas itu yang dipuji kopinya. Kopinya enak, joss nikmat, dan mantab.

Relalitas hidup juga begitu. Kita yang kerja mati-matian, ee, malah orang lain yang mendapat pujian. Saat kerjaan tidak beres, kita yang disalakan, orang sibuk mencari pembenaran dan alasan. Meski begitu teruslah berjuang dan berusaha, walau tidak ada pujian. Ikhlas dan tekun, karena tindakan itu yang akan berbicara, bukan kata-kata. Kebaikan akan tetap bersinar. Hidup yang penuh syukur dan sukacita itulah yang akan memberi makna dan rasa.

Tidak perlu kecewa, bila orang memandang sebelah mata. Tidak perlu putus asa, bila pujian dan penghargaan dari orang lain tidak ada. Tidak perlu membalas, bila kebaikan dibalas dengan kejahatan. Tetaplah menebar kasih dan kebaikan. Tidak perlu marah, bila keadaan tak bisa kita kendalikan. Tetaplah melangkah dan bungkam setiap komentar itu dengan tindakan nyata. Lihatlah garam, meski kena cubit tetap memberi rasa. Lihatlah gula, meski sering disalahkan tetap memberi rasa manis, dan yang pahit jadi nikmat.

“Gusti mboten sare,” Tuhan tidak pernah tidur. Mungkin sesama tidak melihat, tapi Tuhan melihat. Meski orang lain kecewa, marah, dan mencari kesalahan. Tapi Tuhan tersenyum, karena kita menebar kebaikan. Mungkin orang lain menghujat, tapi Tuhan dengan tangan kasih-Nya melakukan mukjizat. Mungkin orang lain merendahkan, tapi Tuhan meninggikan, karena kasih dan syukur yang kita taburkan.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj