Refleksi Filosofi dan Spiritual:
Setangkai Zaitun

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Setangkai Zaitun mengingatkan kita, bahwa damai sejahtera bukan berarti tidak adanya badai hidup lagi, melainkan adanya sekeping harapan yang tetap hijau di tengah genangan air bah.”
(Makna Sentral dari Setangkai Zaitun)
Lewat refleksi ini, kepada kita diingatkan kembali, akan sebuah kisah purba “Nuh yang disandingkan dengan pengorbanan Kristus di Taman Getsemani.”
Refleksi:
Tentang Setangkai Zaitun adalah “Jembatan antara Penghakiman dan Damai.”
- Dimensi Filosofis: Sebuah Harapan di Tengah Kehancuran:
Setangkai Zaitun, yang dibawa seekor burung merpati kepada Nuh (kejadian 8: 11), dan hal ini bukan sekadar sekeping daun secara fisik. Melainkan hal ini menyimbolkan “ketahanan hidup” (resiliensi).
- Paradoks Kehidupan: Air bah telah menghancurkan semuanya di bumi. Tapi di tengah kehancuran dunia lama, ternyata ada sesuatu yang bertumbuh: Zaitun. Inilah sejenis pohon tangguh yang justru dapat bertumbuh subur di tanah yang kersang dan berbatu.
- Tanda Berakhirnya Murka: Zaitun menandakan, bahwa air bah telah surut. Secara eksistensial, Zaitun mengajarkan kita, bahwa “setiap kali badai itu datang, pasti akan berlalu juga.”
- Inisiatif Damai: Burung merpati itu tidak membawa emas dan permata, tapi justru sesuatu yang tampak kecil, sederhana, dan hijau. Hal ini bermakna, bahwa dalam damai sejati itu tidak selalu datang dengan kemewahan, tapi ia tampil sederhana, alamiah, dan rendah hati.
- Dimensi Spiritual: Dari Ararat ke Getsemani
Dalam tradisi Kristen, Zaitun itu memiliki dua momen kunci yang berkaitan.
a. Zaitun sebagai Tanda Perjanjian Baru (zaman Nuh): Ketika Nuh menerima setangkai ranting Zaitun, hal itu sebagai tanda, bahwa Allah tidak lagi murka. Inilah awal damai antara Allah dan manusia. Maka, minyak Zaitun kelak jadi simbol urapan, penyembuhan, dan kehadiran Roh Kudus.
b. Zaitun sebagai Tempat Pergumulan nan Agung (Taman Getsemani).
Kata ‘Getsemani’ itu bermaknakan “Tempat Pemerasan Minyak Zaitun: (Di sinilah letak kedalaman spiritualnya).
- Agar Kita Peroleh Minyak Zaitun, maka buah Zaitun itu harus diperas (dibutuhkan tekanan untuk mengeluarkan esensinya).
- Di Taman Getsemani, Yesus pun mengalami ‘Pemerasan’ jiwa yang luar biasa (agony). Ia bergulat dalam doa dan keringat mengalir seperti titik-titik darah.
- Sintesis: Apa Maknanya bagi Kita Hari ini?
“Setangkai Zaitun mengingatkan kita, bahwa damai sejahtera itu bukan berarti tidak ada lagi badai hidup, melainkan adanya sekeping harapan yang tetap hijau di tengah banjir bandang.”
Kediri, 28 Juli 3026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.