Puasa Bisu

“Belajar mendengarkan suara hati agar kita tidak mudah diperdaya oleh keinginan sendiri.” -Mas Redjo

Untuk makin peka dan peduli itu berproses. Tidak datang secara mendadak dan ‘ujuk-ujuk’, tapi belajar tahap demi tahap.

Saya ingat, ketika diajar dan dilatih oleh Mbah Putri dengan laku hidup prihatin. Dari berpuasa waktu yang relatif pendek, mengurangi makan minum, bermain-main, hingga mengurangi waktu tidur. Tapi waktu sepenuhnya untuk digunakan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Tentang laku hidup pribatin itu, saya berkesan dengan ajaran Mbah Putri perihal ‘Puasa Bisu’. Semula saya berpikir, puasa itu dilakukan tanpa bicara, seperti mulut ini diplester. Ternyata tidak. Intinya kita diajak diam dalam keheningan rohani (Silentium). Menjaga suasana tenang dan mengurangi perkataan yang sia-sia. Tapi untuk membuka hati mendengarkan Firman Tuhan dan berdoa agar kita makin dekat dengan-Nya.

Dalam hal puasa bisu ini kita dapat menemukan, terutama saat retret atau masa Prapaskah. Tujuannya agar kita makin fokus untuk berdoa dan mewujudkan dalam tindakan nyata.

Dengan puasa bisu, kita ditempa untuk hidup berdevosi dan bermati raga. Dengan membuka hati, kita fokus mendengarkan Firman Tuhan dan melaksanakannya.

Doa yang mewujud dalam tindakan nyata! Karena sejatinya hidup ini untuk memberi, kita adalah saluran berkat-Nya!

Mas Redjo