Kekuatan Allah dalam Hidup yang Rapuh

“Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat, supaya nyata, bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami” (2 Kor 4: 7).

Kita mungkin pernah mendengar lirik ini:

Kekuatan di hidupku, kudapat dalam Yesus.
Dia tak pernah tinggalkanku,
Setia menopangku …

Lirik ini mengungkapkan iman, bahwa sumber kekuatan sejati berasal dari Tuhan. Hal ini sejalan dengan perkataan Rasul Paulus: kita ini bagaikan bejana tanah liat, rapuh dan terbatas. Tapi justru di dalam kerapuhan itulah tampak kekuatan Allah yang luar biasa (bdk. 2 Kor 4:7).

Sering kali kita mengandalkan diri sendiri dan baru mencari Tuhan saat menghadapi jalan buntu. Padahal, sejak awal kita dipanggil untuk sadar, bahwa kekuatan kita berasal dari-Nya.

Santo Yakobus Rasul memberi teladan nyata. Sebagai Martir pertama di antara para Rasul, ia berani mempertahankan imannya, karena mengandalkan kekuatan Allah. Ia menghidupi imannya dalam perbuatan, sebab iman tanpa perbuatan adalah mati (bdk. Yak 2: 26).

Semoga kita menyadari kerapuhan kita, tapi tetap percaya, bahwa Tuhan bekerja di dalamnya, sehingga kita mampu hidup setia dan berani bersaksi.

Santo Yakobus Rasul, doakanlah kami!

Sr. M. Ellen P. Karm

Sabtu, 25 Juli 2026
2 Kor 4: 7-15 Mzm 126: 1-6 Mat 20: 20-28

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com