Mendengar dan Mengerti

Ada pertanyaan yang sering diutarakan kepada umat, juga para Imam yang bunyinya kira-kira begini: “Mengapa di dalam sesi pengajaran, renungan, dan homili, para pendengar tidak cukup betah dalam mendengar, tapi lebih sering kedapatan mengantuk?” Lihat, waktu Imam itu memberikan homili dalam misa, cukup banyak umat yang mengantuk.

Ada banyak alasan, di antaranya: kesalahan atau kekurangan itu dapat diuraikan dan didaftar, baik itu dari pihak Imam maupun umat; pewarta maupun dari pendengar. Banyak orang mengatakan, bahwa umat atau pendengar rupanya dapat mendengarkannya, tapi tidak mengerti. Ini dipandang sebagai salah satu penyebab mereka mengantuk. Dua kemampuan intelektual ini, mendengar dan mengerti, sama-sama berperan penting dalam pertumbuhan kejiwaan, kerohanian, dan hidup sosial seseorang.

Mendengar merupakan kegiatan yang ditopang oleh indra telinga, oleh karena itu harus jadi yang pertama menerima pesan yang datang. Kegiatan ini sama seperti melihat dengan mata dan merasakan dengan kulit. Pesan yang datang dan didengar masih mentah. Kita merasakan sentuhan seperti terkena air pada kulit. Perasaan ini belum berarti sebelum diproses di dalam otak, sehingga jadi sebuah pikiran. Di sini baru bisa terjadi pemahaman atau pengertian. Sebuah pengertian baru dibuat dari proses mendengar yang kemudian diolah oleh pikiran, yang akhirnya membentuk sikap, perilaku dan cara hidup yang baru pula.

Itulah sebabnya Yesus sangat tegas mengatakan, bahwa seorang pribadi yang baik ialah ia yang dapat mendengar dan mengerti Sabda Tuhan yang disampaikan kepadanya. Kalau ia hanya mendengar, ia baru setengah baik. Ia juga tidak bisa langsung mengerti jika belum mendengar Sabda itu. Orang seperti ini diumpamakan sebagai tanah yang baik, yaitu kemampuannya untuk mendengar dan mengerti secara baik, sehingga ketika Sabda Tuhan datang kepadanya Sabda itu akan tumbuh dan berbuah banyak di dalam hidupnya.

Dalam proses mendengar dan mengerti itu kita mesti dapat menghindari beberapa hal ini: hati dan pikiran kita seperti jalanan besar dan kecil di mana Sabda Tuhan jatuh di situ lalu burung dan ayam datang memakannya, akhirnya Sabda itu tidak tumbuh. Kita juga seperti bebatuan dengan tanah tipis di atasnya, di mana Sabda Tuhan tumbuh tapi tidak berakar, akhirnya layu terkena panas matahari dan mati. Hati dan pikiran kita seperti duri-duri dan semak belukar, di mana Sabda Tuhan akan terhimpit dan terancam mati. Dengan menghindari semua itu, yang tinggal adalah diri kita sebagai tanah yang subur.

“Ya, Allah yang Maha Kuasa, jadikanlah hati kami tanah yang subur agar Sabda-Mu bertumbuh dan berbuah melimpah. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)