Mengambil Bagian Dalam Cinta Kasih Kristus

“Mengapa Kitab Suci berkata, bahwa cinta kasih itu menuntut?”

Pertanyaan ini dari seorang pemudi terhadap pacarnya yang selalu mengantar dan menjemputnya setiap kali pergi dan pulang dari kerja.

“Kalau seseorang didorong oleh cinta, maka ia bahagia untuk melalukan apa yang bertujuan untuk kebaikan. Ia tidak terpaksa untuk melakukan itu,” jawab pemuda itu singkat,

Benar sekali, hubungan mereka tumbuh dengan baik dan indah.

Kita memperingati Santa Maria Magdalena. Ia seorang perempuan Yahudi pada zaman Yesus dan dikenal sangat dekat dengan Yesus. Ia adalah orang pertama yang menyaksikan Yesus bangkit. Hubungan yang amat dekat ini dapat jadi pembelajaran cinta bagi kita. Patokan kita ialah cinta kasih Yesus, yaitu persembahan diri bagi kebaikan dan keselamatan sahabat-sahabat-Nya.

Pada saat dan waktu yang tepat perbuatan cinta itu menuntut. Sebagian besar, mungkin 90 persen, cinta itu mendorong seseorang untuk mencintai, sementara sisanya 10 persen mungkin berisi keraguan, takut, malu, bingung, dan kurang paham. Maria Magdalena membalas semua cinta kasih Yesus dalam kondisi yang tidak sempurna. Puncaknya ialah, ketika ia ketakutan dalam mencari jenazah Yesus di makam, dan agak sulit mengenali Yesus yang bangkit sebelum Yesus sendiri memanggil namanya. Dalam situasi seperti inilah, cinta itu cenderung menuntut, yang dengan itu memengaruhi supaya Maria segera mengakui, bahwa itu adalah Tuhan yang bangkit.

Maria Magdalena tentu sudah belajar banyak tentang cinta kasih Kristus. Dalam aneka perbuatannya mengikuti Kristus, ia ungkapkan cinta kasih itu yang telah diambil dari Gurunya. Umumnya, ia memiliki kesetiaan dalam mengikuti Kristus hingga mendampingi-Nya saat Gurunya itu wafat di salib. Ia bersedih mencari-Nya di makam dan akhirnya menemukan Dia. Tapi yang paling menonjol aspek cinta kasih yang diambil dari Yesus Kristus ialah ia sungguh memiliki sukacita, keberanian, semangat, kebenaran dan ketulusan untuk mewartakan kepada rekan-rekannya, bahwa “Aku telah melihat Tuhan”.

Dengan bertindak seperti ini, Maria Magdalena ingin menginspirasi para Rasul dan kita semua yang mendengarkan firman ini, seolah-olah menantang kita: ayolah, aku sudah ambil bagianku dari cinta kasih Guru kita, Yesus Kristus, maka kini giliran kalian untuk mengambil bagian dari cinta kasih Yesus itu. Jangan biarkan keharuman cinta kasih Yesus Kristus itu sia-sia, tanpa disukai dan diambil. Pertanyaan sebagai tantangan dan refleksi bagi kita ialah: “Apa aspek
cinta kasih yang dapat Anda ambil dari Yesus Kristus?”

“Terima kasih, ya, Tuhan Yesus Kristus atas diri-Mu dan ajaran-Mu tentang cinta kasih. Kuatkanlah dan penuhilah kami dengan cinta kasih-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)