Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Tidak ada yang ingin menderita didera bencana serta tantangan hidup. Namun, faktanya bencana bisa terjadi dan tantangan terus ada dalam kehidupan.
Agar mampu menghadapinya, perlu kesadaran diri untuk tahu dan memahami realitas, lalu membekali diri dengan banyak hal. Usaha menyadari realitas kehidupan itu, saya tuliskan dalam sajak
Hujan Belum Juga Usai
Sejak dari tadi malam
Langit terus mengucurkan air
Dari pagi hingga soreh ini
langit pekat guntur petir kilat
mengiringi deras guyurnya hujan
musim tak mampu dibatalkan
Dan
air mata derita lara manusia
Sederas air hujan yang mengucur
membasahi berbagai pelosok dunia
Cerita derita bencana kemanusiaan
berpadu dengan ganas bencana alam
Hujan belum juga usai
mengguyur puncak gunung kerakusan
banjir merobek bukit lembah gundul
Karena hutan dibabat target untung
dari perkebunan dan aneka tambang
Menggusur masyarakat kampung sederhana
yang merana dicengkram tanya
mengembara memikul duka laranya
Hujan belum juga usai
Banjir informasi gelombang zaman
Terus menerjang langkah kehidupan
Tak henti mengguyur nasib manusia
Tak tahu entah harus kemana
Tak tahu berharap pada siapa
dalam banjir lumpur penindasan
Musim pancaroba ekonomi politik
Angin badai gelombang arus zaman
“Dunia ini panggung sandiwara
permainan aneka lakon kepentingan”
Hujan belum juga usai
Ada yang lapar haus kedinginan
Ada yang tertahan di kebun ladang
Ada yang terlunta di tengah kota
Ada yang mengais di tumpukan sampah
Ada yang berjuang di perjalanan
Ada yang terombang-ambing di samudera
Ada yang merintih sakit mendera
Ada yang terkurung dalam penjara
Hujan belum juga usai
Sementara disanaโฆ
ada yang berdoa di biara
ada yang sujud sesaji sembah
ada yang hening tapa samadhi
Dan
segelintir tertawa terbahak-bahak
yang lain sedang berpesta-pora
Setelah merebut tahta kekuasaan
dan menimbun harta kekayaan
dari air mata dan darah sesama
yang dikuras alam dan hak-haknya
Hujan belum juga usai
Ini masih soreh menjelang malam
Sementara langit gelap pekat
sejak semalam memasuk malam lagi
Pikiran digerogoti hawa dingin
kayu bakar nasib diguyur air
Tungku api harapan telah padam
di dapur kebun dan rumah kampung
Dalam pekat gelap gulita
Tak terdengar suara ceria bocah
Tak terlihat anak-anak bermain
Tak nampak kaum muda bergurau
Tak berputar roda kehidupan
Jika matahari tidak bersinar
Jika tak nampak bulan dan bintang
tak tahu malam atau siang
Karena
hujan belum juga usai
mengguyur langkah hari-hari
membanjiri hati sanubari insani

