Antara Belas Kasih dan Persembahan

Ada banyak umat Katolik sudah tidak lagi melakukan pengakuan dosa. Hal ini terwakili oleh seorang pemuda yang berbicara dengan Pastor Parokinya, bahwa ia dan teman-teman tidak menganggap penting untuk melakukan pengakuan dosa kepada seorang Imam Katolik. Pemuda itu memberikan alasannya, bahwa pengakuan dosa langsung kepada Tuhan sudah cukup dan terjamin aman. Pengakuan dosa melalui Imam justru tidak masuk di akalnya.
Pengakuan dosa merupakan suatu perbuatan yang bukan sekadar berdoa kepada Tuhan untuk menyampaikan dosa-dosa dan meminta pengampunan, tapi yang jadi intinya ialah terjadi rekonsiliasi dan pertobatan. Doa mohon pengampunan itu bukan sebuah Sakramen Tobat. Doa ini sama dengan semua jenis persembahan yang kita lakukan, yaitu memberikan sesuatu sebagai bukti iman dan kasih kita kepada Tuhan. Hal ini sama dengan memberikan sesuatu kepada orang yang kita kasihi untuk menghormati dan menyenangkannya.
Persembahan itu semata-mata perbuatan manusia, maka sangat bergantung pada kehendak bebas, pilihan atau selera masing-masing orang. Sering persembahan itu diatur atau dilembagakan demi memenuhi keinginan pihak penguasa atau para pemimpin, maka dibuatlah aturannya. Ada jumlah yang mesti dipenuhi, misalnya derma harus sepersepuluh dari penghasilan. Korban bakaran dan sembelihan harus berjumlah sekian dan kondisi hewan persembahan itu cacat atau tidak dan sebagainya.
Tuhan Yesus Kristus menggantikan semuanya itu dengan persembahan diri-Nya sendiri. Yang dibuat oleh Tuhan adalah perbuatan Tuhan bagi kita manusia, yang bukan sebagai persembahan, tapi sebagai belas kasih. Tuhan mengasihi kita dengan mengorbankan diri-Nya. Bapa Allah berbelas kasih dan sangat menyayangi kita manusia, maka Ia memberikan Anak-Nya sendiri bagi kita. Perbuatan Yesus dalam berbelas kasih ialah menolong dan menyelamatkan kita manusia dari segala bentuk perbudakan dosa, kejahatan dan kematian.
Belas kasih dari Tuhan dan kewajiban kita untuk melakukannya, merupakan sebuah ibadat yang melebihi hari Sabat dan persembahan lainnya, ketika nasib hidup manusia sangat menuntut untuk diperhatikan. Inilah yang ingin Yesus perbaiki, ketika belas kasih diremehkan atau bahkan ditiadakan, sementara persembahan dan hari Sabat dipatuhi secara berlebihan.
Bagi kita umat beriman, persembahan dan ibadat itu tidak perlu dihilangkan dari hidup kita, artinya kita tetap memerlukannya. Tapi pada saat belas kasih itu diperlukan, kita tidak boleh menggantikannya dengan sekadar mempersembahkan doa-doa kita.
“Ya, Allah kuatkan dan penuhilah kami dengan kuasa-Mu, supaya kami dapat memberikan yang sesungguhnya sebagai belas kasih dan persembahan di dalam penghayatan iman kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.