Kasih di Atas Segala Aturan

“Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah” (Mat 12: 7b).
Dalam Injil, Yesus menegaskan, bahwa Allah menghendaki belas kasihan, bukan sekadar persembahan. Ia menegur orang-orang Farisi yang lebih berpegang pada aturan Sabat daripada memperhatikan kebutuhan sesama. Ketika para murid lapar dan memetik gandum, mereka justru dipersalahkan. Tapi Yesus menunjukkan, bahwa kasih dan kepedulian terhadap sesama jauh lebih utama daripada ketaatan yang kaku terhadap hukum.
Allah yang kita imani adalah Allah yang penuh kerahiman. Seperti diungkapkan oleh Santa Faustina Kowalska, sifat terbesar Allah adalah belas kasih-Nya. Oleh karena itu, hidup beriman bukan hanya tentang menaati aturan, melainkan terutama tentang menghadirkan kasih dalam kehidupan sehari-hari, khususnya kepada mereka yang lapar, miskin, sakit, dan menderita.
Hukum dan peraturan itu memang penting dalam kehidupan bersama. Tapi semuanya itu seharusnya menuntun kita kepada kasih, bukan malah menjauhkan kita dari sikap peduli. Jangan sampai kita jadi seperti orang Farisi yang sibuk menjaga aturan, tapi kehilangan hati yang penuh belas kasih.
Semoga kita makin dipenuhi oleh kerahiman-Nya, sehingga mampu melihat dan menolong sesama dengan hati yang tulus.
Sr. M. Yoanita, P. Karm
Jumat, 17 Juli 2026
Yes 38: 1-6.21-22.7-8 MT Yes 38: 10-12.16; Mat 12: 1-8
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.