Mutung Kasarung

“Jangan mutungan agar kita tidak terperangkap dalam penyesalan.” -Mas Redjo

Mutung, ngambek, atau marah lalu pergi meninggalkan pekerjaan dan tanggung jawab itu naif, kekanak-kanakan, dan (maaf) pengecut! Karena tidak berani menghadapi kenyataan pahit.

Kecewa itu boleh, tapi realistis! Coba disikapi dengan bijak agar tidak menyesal belakangan.

Hal itu yang saya tangkap dari kisah MM, yang profesinya tukang urut. Demi mengentaskan anak gadisnya yang semata wayang itu ia bekerja keras, dan tidak kenal waktu. Anaknya itu dicarikan kos dekat kampus. Bahkan ia juga rela hidup berjauhan dengan istri dan anak lelakinya yang di kampung. Tujuannya agar anak gadisnya itu kelak dapat mengangkat martabat keluarga.

Faktanya, MM harus menerima kenyataan pahit, karena seusai diwisuda, anak gadisnya itu dilamar pacarnya, karena hamil. Seketika itu harapannya runtuh, kecewa, dan stres. Ia mudik, dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak kembali ke kota lagi.

Berbeda dengan NE, teman Gereja, yang menerima lamaran KD. Ketika “medical check-up,” KD ketahuan mengindap kanker darah.

NE kaget, dan stres! Imannya diuji. Tapi ia tidak larut dalam kesedihan. Meski orangtua dan teman-teman mengingatkan keadaan KD, calon suaminya. Tujuanya agar ia berpikir ulang dan mundur, membatalkan lamaran itu.

NE keukeh dan tidak bergeming! Ia mencintai KD. Kenyataan pahit getir itu harus diterimanya untuk dijalani bersama. Ia tidak lari dari masalah, tapi ingin menanggulangi; termasuk konsekuensi terhadap resikonya. Ia tidak mau dihantui oleh penyesalan (tersesat) belakangan. Ia sungguh percaya, bahwa Tuhan selalu memberi yang terbaik, dan setiap peristiwa dalam hidup ini berhikmat.

Hati NE dibelai oleh Firman-Nya,
“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu” (Mat 11: 28-30).

NE optimis. Ia akan mendampingi HD berobat hingga sembuh. Bersama Tuhan Yesus tidak ada yang mustahil!

Mas Redjo