Mengatasi Kekecewaan

Seorang remaja, Anto namanya. Ia ingin mengisi waktu di luar sekolah dengan latihan sepak bola. Ia mendaftarkan diri ke salah satu sekolah bola di dekat rumahnya. Tapi, setelah dua minggu berlatih, ia berhenti dan pindah ke sekolah bola yang lain. Alasannya, ia sangat kecewa, karena di sana tidak ada saling memberi apresiasi dan mendukung kreativitas. Anto memiliki bakat bermain yang bagus, tapi tidak mendapat dukungan dari pelatih dan teman-teman.

Banyak faktor yang menyebabkan orang jadi kecewa, di antaranya tiada diapresiasi dan rasa bangga atas kebaikan serta kualitas yang dimiliki. Apresiasi itu sama dengan penghargaan, mengindahkan, menghormati, mendukung dan memberikan perhatian. Ungkapan lain untuk ini ialah bersyukur. Orang yang bersyukur adalah dia yang menghargai kebaikan, kebenaran, dan hidup di dalamnya.

Kisah kekecewaan itu diungkapkan Allah atas Yerusalem bersama penguasa dan penduduknya, yang tidak mengandalkan kekuasaan Tuhan yang Maha Tinggi untuk menjaga dan membela mereka dari gangguan bangsa lain. Mereka kurang percaya kepada Tuhan, dan dikuasai rasa takut serta ingin lari dari gertakan musuh. Yesus Kristus kecewa atas kota-kota yang telah menerima pengajaran dan kekuatan dari-Nya, tapi tidak mempunyai niat untuk bertobat. Menyertai rasa kecewa itu, Yesus memberikan penegasan, bahwa hukuman sudah disiapkan bagi mereka pada waktu penghakiman yang terakhir.

Kita selalu menunjukkan rasa kecewa, karena tidak ada apresiasi dan tidak ada sikap bersyukur ini dalam berbagai bentuk seperti marah, kecewa, peringatan, bahkan perlawanan yang keras. Tidak ada salah tentang ini. Yang penting adalah ini sebagai tindakan untuk menyadarkan, mengingatkan, dan membawa orang kembali kepada sikap bersyukur dan memberikan apresiasi. Kita selalu memiliki cara-cara seperti koreksi persaudaraan atau protes dengan cara seperti yang dibuat oleh Anto tadi, supaya suasana hidup bersama yang kacau kembali memberikan rasa betah dan saling menerima satu terhadap yang lain.

Apa yang perlu dihindari dari sikap kecewa ini?

Yang perlu dihindari ialah kekecewaan yang mendorong orang untuk membalas dendam, rencana jahat, atau menciptakan konflik dan perang. Kekecewaan yang konstruktif itu yang berguna untuk memperbaiki keadaan yang tidak beres dan kacau, dan ada juga kekecewaan yang menjurus destruktif, yaitu mendatangkan masalah yang lebih buruk. Jika kita selalu menggunakan kekecewaan kita yang konstruktif berarti kita berkontribusi untuk memperbaiki dan membarui kehidupan kita.

“Ya, Bapa yang Maha Kuasa, kami bersyukur atas kebijaksanaan-Mu untuk menerangi jalan hidup kami, terutama ketika kami kecewa, sakit hati, dan putus asa. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)