Lentik Ujung Jemari Sang Pelukis Keabadian

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Pelangi-pelangi alangkah indahmu, merah kuning hijau di langit yang biru, pelukismu agung, siapa gerangan, pelangi-pelangi ciptaan Tuhan.”
(Lagu Anak Indonesia)
“Lentik Ujung Jemari Sang Pelukis Keabadian” adalah sebuah metafora yang amat puitis, halus, dan sarat makna spiritual serta estetika. Inilah sebuah allegori (kiasan), tentang penciptaan, kehalusan rasa, dan hubungan antara manusia dengan yang Ilahi.
Mari Kita Bedah Lapisan-lapisan Misteri nya!
- “Lentik Ujung Jemari”: Simbol Kehalusan dan Presisi
- Kehalusan Sentuhan: Kata ‘lentik’ itu adalah sesuatu yang melengkung indah, luwes, dan tidak kaku.
- Instrumen Rohani: Jemari dalam konteks ini bukanlah tubuh biologis, melainkan perpanjangan dari jiwa. Ia menyangkut hal-hal yang abstrak: rasa, doa, dan harapan serta mewujudkannya jadi sesuatu yang nyata (karya seni, perbuatan kasih).
- Misteri: Mengapa ‘Ujung?’ Karena ujung adalah titik kontak yang paling intim antara subjek (pelukis), dan objek (kehidupan/kanvas). Di situlah terjadi transfer energi.
- “Si Sang Pelukis”: Agen Penciptaan
- Manusia sebagai Co-Creator: Dalam banyak tradisi spiritual, manusia disebut sebagai Imago Dei (gambar Allah). Manusia diberi kemampuan untuk menciptakan. Kala seseorang disebut ‘Pelukis’, ia ditempatkan dalam posisi aktif, bukan pasif.
- Seniman Hidup: Setiap orang adalah pelukis bagi hidupnya sendiri. Setiap tindakannya, kata, pilihan adalah goresan kuas di kanvas waktu.
- “Keabadian”: Kanvas yang Tak Terbatas
Inilah bagian yang paling misterius: Apakah keabadian itu?
- Bukan Sekadar Waktu Fisik: Keabadian di sini tidak berarti, bahwa hidup untuk selama-lamanya secara biologis, melainkan jejak makna yang melampaui kematian.
- Warisan Nilai dan Cinta: Sebuah lukisan bisa saja rusak, tapi kesan yang ditimbulkannya pada peminatnya bisa bersifat abadi. Nah, demikian pula kebaikan, cinta, sejati, karya seni, atau ajaran kebijaksanaan yang ditinggalkan seseorang itu akan terus bergema.
- Dimensi Spiritual: Bagi orang yang beriman, ‘melukis keabadian’ berarti melakukan perbuatan di dunia fana ini dengan niat dan kualitas yang bernilai di hadapan Tuhan, sehingga hasilnya kekal di akhirat.
Makna Filosofis Terdalam
a. Paradoks Fana vs Abadi
Ungkapan ini menyatukan dua hal yang bertolak belakang: Jemari (yang fana, daging, pun akan keriput, dan mati), dan keabadian (yang tak berujung, spiritual, serta suci).
Adapun Maknanya: Melalui instrumen yang fana (tubuh/fisik), manusia bisa menyentuh dan menciptakan sesuatu yang abadi (makna/jiwa). Inilah mukjizat kreativitas manusia.
b. Proses yang Lebih Penting dari Hasil
“Lentik Ujung Jemari” menekankan pada proses menyentuh, lukisan keabadian bukanlah soal menyelesaikan gambar dengan cepat, tapi tentang kehadiran penuh (mindfulness) dalam setiap goresan.
c. Tanggung jawab Estetika Moral
Jika kita adalah pelukis keabadian, maka hidup kita harus indah, bermakna, dan tidak ceroboh. Goresan yang buruk (dosa, kebencian, kemalasan), justru akan merusak komposisi keabadian itu.
Refleksi Aplikatif untuk Kita
Bayangkan hidup Anda sebagai sebuah kanvas raksasa yang terbentang dari lahir hingga mati.
- Siapakah Pelukisnya? Anda, dengan bantuan rahmat Tuhan.
- Apakah Kuasnya? Pikiran, ucapan, dan tindakan Anda.
- Apakah Catnya? Waktu, energi, dan cinta Anda.
- Bagaimana Jemari Anda? Apakah ia kaku karena kemarahan? Ataukah lentik karena kelembutan serta kebijaksanaan?
“Melukis keabadian berarti melakukan hal-hal kecil sehari-hari dengan cinta yang besar, sehingga ketika tubuh ini kembali ke tanah, jejak cinta tersebut akan tetap bersinar di hati orang lain serta di hadapan Sang Pencipta.
Kediri, 14 Juli 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.