Perang Rohani

Seorang pemudi bertengkar dengan Ibunya. Mereka berteriak dan saling mempersalahkan atas sesuatu persoalan yang sepele. Saat meninggalkan rumah dan selama di tempat kerja ia tetap marah. Tapi Ibunya yang di rumah tidak henti-berdoa bagi putrinya. Ia ingin agar kemarahan putrinya itu segera berhenti. Sore hari, ketika pemudi itu kembali dari bekerja, tidak ada lagi kemarahan dan suasana kembali normal.

Kemarahan merupakan satu dari banyak dosa lain yang bersumber dari si jahat, yaitu Iblis atau Setan. Ketika kita membiarkan diri ini dikuasai Iblis, perbuatan dosa dapat terjadi dengan cepat. Sehebat dan sepandainya manusia, jika berhadapan dengan kuasa kegelapan ini bakal takluk dan binasa. Kuasa ini masuk ke dalam diri manusia untuk menghancurkan dan menyengsarakan, yaitu mereka yang lemah dalam mental dan rohani.

Kejadian antara pemudi dengan Ibunya itu merupakan contoh perang rohani. Di dalam suatu perang rohani, tidak terjadi kekerasan fisik yang melibatkan alat atau senjata, tapi yang dipakai ialah kata-kata, pikiran, argumen, kritikan, nasihat, dan yang kekuatannya dahsyat yaitu doa. Perang rohani dalam wujud yang sesungguhnya ialah kekuatan yang benar berperang melawan kekuatan yang salah atau jahat. Dari pihak Tuhan, kebenaran dan kebaikan hendak ditegakkan atau dipertahankan, karena kekuatan jahat sudah terlanjur menghadirkan kekacauan atau bahkan ancaman untuk berkuasa.

Nabi Yesaya menegaskan kepada bangsa Israel di pembuangan, bahwa mereka harus membersihkan diri ini dengan menjauhkan perbuatan-perbuatan jahat dari hadirat Allah yang Maha Kuasa. Pedang yang dipakai Yesus untuk berperang secara rohani ialah Firman Allah. Pedang itu memiliki dua sisi sama tajamnya yang membela roh dan jiwa, pertimbangan-pertimbangan pikiran dan maksud-maksud hati manusia. Firman Allah itu sesungguhnya ialah pedang Roh untuk menghancurkan roh kegelapan yang menjerumuskan kita ke dalam dosa dan akhirnya kehilangan martabat sebagai putra dan putri Allah.

Yesuslah yang menggerakkan terjadinya pembinasaan itu, karena di situ sering terdapat kegelapan dan kebusukan, bila dibiarkan tumbuh subur. Pembersihan ini harus terjadi untuk memberikan kita kesempatan sebagai putra dan putri Allah yang hidup benar, damai, dan bersukacita dalam Roh Kudus. Hendaknya kita selalu menggunakan pedang rohani Yesus Kristus.

“Ya, Bapa, semangati dan penuhi hidup kami dengan api Roh-Mu yang membakar kami untuk giat dan tekun memerangi segala bentuk kuasa kegelapan yang setiap saat dapat mengganggu dan menaklukkan kami. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)