Buah-buah Kekudusan

“Penderitaan itu bukan akhir dari kisah hidup. Melainkan seperti akar yang bertumbuh dalam diam sebelum pohon itu berbuah.”

Allah yang Maha Rahim, Putera-Mu Yesus tidak sekadar bercerita tentang seorang penabur. Sesungguhnya, Ia sedang menceritakan keadaan hatiku.

Aku ingin percaya, bahwa hatiku adalah tanah yang subur. Tapi, jika aku jujur, sering kali aku jadi semua jenis tanah itu.

Ketika hatiku mengeras karena kesibukan, Sabda-Mu hanya singgah di telinga tanpa sempat meresap ke dalam hati. Ada kalanya aku menyambut-Mu dengan sukacita; ketika pencobaan itu datang, imanku cepat layu, karena akarnya belum cukup dalam. Tidak jarang, kekhawatiran, kenyamanan, ambisi, atau keinginan untuk mengendalikan segala sesuatu itu tumbuh seperti semak berduri yang perlahan mencekik hidup-Mu di dalam diriku.

Yang lebih menyedihkan, kadang aku justru memelihara duri-duri itu. Aku menganggapnya sebagai sumber rasa aman, kebanggaan, atau sandaran hidupku. Tanpa kusadari, semuanya itu mengambil tempat yang seharusnya hanya jadi milik-Mu.

Engkau tidak pernah berhenti menabur. Seperti hujan yang turun membasahi bumi, Sabda-Mu datang membawa kehidupan dan tidak pernah kembali kepada-Mu dengan sia-sia. Sebelum Engkau memintaku menghasilkan buah, Engkau terlebih dahulu mengolah tanah hatiku. Dengan sabar Engkau melunakkan yang keras, mencabut yang berduri, menyiram yang kering, dan menyembuhkan yang terluka.

Melalui Santo Paulus, Engkau juga mengingatkan kami agar tidak cepat putus asa. Penderitaan itu bukan akhir dari kisah hidup kami. Melainkan seperti akar yang bertumbuh dalam diam sebelum pohon itu berbuah. Demikian pula rahmat-Mu yang sedang bekerja di dalam diri kami, meskipun belum selalu terlihat.

Dalam Ekaristi, terjadi mukjizat yang begitu indah. Sabda yang Engkau taburkan itu jadi Roti Kehidupan bagi kami. Engkau tidak pernah meminta kami menghasilkan buah kekudusan dengan kekuatan sendiri. Engkau terlebih dahulu memberikan diri-Mu agar hidup-Mu bertumbuh di dalam kami.

Bapa, jangan hanya menaburkan benih-Mu di sekelilingku. Tapi gemburkan bagian-bagian hatiku yang masih keras. Cabutlah duri-duri yang masih kupertahankan. Hancurkanlah batu kesombongan yang membuat imanku berakar dangkal. Siramilah terus menerus aku dengan belas kasih-Mu, sampai Sabda-Mu bukan hanya kudengar, melainkan sungguh jadi hidupku.

Biarlah hidup kami menghasilkan buah: kasih, pengampunan, kerendahan hati, kesetiaan, dan sukacita, sehingga melalui hidupku, orang lain pun dapat makin mengenal-Mu.
Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)