Kelana Kampung dan Kota -87
Simply da Flores
Senja di Trotoar Metropolitan

1.
Sudah berulang kali aku telusuri trotoar ini
Sepintas terlihat masih sama jalurnya
Namun…
selalu ada ribuan jejak langkah baru
yang menghalau catatan cerita kemarin
apalagi kisah fakta tempo dahulu
mungkin tertimbun debu dan batu
Ada banyak yang hilir mudik mengejar waktu
entah sedang ceria semangat atau justru galau
Aku rehat sejenak di bangku trotoar ini
seorang pedagang minuman menghampiri
menawarkan rokok dan kopi
Dan aku tertarik untuk membeli

2.
Pijar senja perlahan melintasi trotoar
langkah cahayanya menyapa metropolitan
Entah siapa yang sempat menjawabnya
karena berbeda pemilik telinga dan mata
di antara deru debu rindu damba
di antara hilir mudik tanya dan cita
di antara senyum ceria dan galau problema
Aku terpana menyaksikan apa adanya
sambil diri aku apa dan siapa
Di antara bara, debu dan asap
yang menemani bibir dan wajah
pada ujung hari yang semakin redup

3.
Senja perlahan melangkah pergi
tinggalkan pesona, aroma dan jejak memori
Mungkin tidak banyak yang peduli
karena sibuk dengan irisan pribadi
Warna warni lampu kota kini bersemi
membaur dengan kilatan pijar lampu kendaraaan
Sosok wajah insani pun berinkarnasi
mengikuti hingar bingar gelora metropolitan
Berbagai sosok berpapasan tetapi tanpa tegur sapa
mungkin banyak yang terasing di tengah keramaian
Mungkin budaya kota memang berbeda dengan di kampung dan dusun
karena ada bersama tetapi berbeda selera dan gaya

4.
Senja di trotoar kota metropolitan
ternyata bisa mencatat kisah cerita
Aku disapa pedagang asongan karena tawarkan jualannya
Setiap pribadi sibuk dengan keperluannya
meskipun bisa ada bersama atau berpapasan
Hanya ada aku, engkau, dia dan mereka
tetapi jarang bisa terjadi kita
Perjumpaan telah menjelma dalam kata harga dan angka
Senja dan malam pun bisa diubah aneka sarana
sehingga siang malam hampir terasa sama saja
Waktu kerja dan beragam acara
menjelma dalam beragam agenda dan kisah cerita
Aku justru duduk di bangku trotoar
tetapi pikiran terbang jauh ke kampung dan desa
coba meraih rindu damba tentang kita
dalam perjumpaan sebagai sesama saudara