Periksalah Jenis Tanah Hati dan Pikiranmu

“Ketika engkau mendengarkan, menerima, dan melaksanakan Firman, sesungguhnya engkau sedang mendengarkan dan menerima Tuhan sendiri di dalam hidup, diri dan hati ini. Karena sesungguhnya, Firman itu adalah Allah sendiri.”

Bila disadari, bahwa air hujan jatuh dari langit ke bumi untuk membasahi dan menyuburkan tanah, Firman Tuhan tercurah dari Surga ke dalam hati kita untuk membentuk pola pikir, menuntun langkah dan menyelamatkan jiwa ini kelak. Inilah yang ditekankan oleh Nabi Yesaya.

Sedang Rasul Paulus ingin menguatkan dan meyakinkan jemaat di Roma dan ini persis sama dengan yang kita alami sekarang ini, ketika wabah penyakit itu meluluhlantakan berbagai sendi kehidupan kita manusia; ambruknya ekonomi, terbatasnya gerak manusia, kesulitan makan minum, dan berbagai penderitaan lainnya. Rasul Paulus menguatkan kita, “Penderitaan zaman ini tidak sebanding dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita.” Sekarang kita mengeluh dalam hati sambil menantikan pengangkatan sebagai anak, yakni pembebasan tubuh kita.

Dalam situasi seperti sekarang ini kita pantas bertanya pada diri ini secara jujur: “Jenis tanah seperti apakah pikiran dan hati kita saat ini?”

  • 1) Apakah hati dan pikiran kita seperti pinggiran jalan, di mana benih ditaburkan tapi akan mati karena diterkam si jahat?
  • 2) Apakah hati dan pikiran kita bagaikan tanah yang berbatu-batu, sehingga benih itu tidak berakar, cepat layu, dan mati?
  • 3) Apakah hati dan pikiran kita bagaikan tanah yang bersemak duri yang terhimpit oleh kekhawatiran dan kecemasan, sehingga tidak bisa bertumbuh?
  • 4) Atau apakah hati dan pikiran kita bagaikan tanah yang subur di mana benih yang ditaburkan itu tumbuh dan berbuah?

Sadarlah, bahwa hati dan pikiran kita tidak menetap pada sejenis tanah saja; Ada yang mulai dari tanah yang berbatu dan berakhir jadi tanah yang subur; yang lain tetap jadi tanah yang berduri sampai akhir; atau sebaliknya ada yang lebih parah, karena berawal dari tanah subur jadi tanah yang berbatu dan bersemak duri.

Kita disadarkan, bahwa sekeras apa pun tanah itu akan jadi becek, bila terus diairi; batu pun akan berlubang, bila terus ditetesi air hujan; demikian pula hati dan pikiran kita. Ingat, bahwa kita bukan robot, melainkan manusia yang memiliki akal budi dan hati nurani, yang membuat kita bisa mengontrol diri dan hidup kita, sehingga pilihan untuk jadi tanah subur, tanah berduri, atau berbatu adalah pilihan masing-masing pribadi.

Akhirnya, Tuhan menanti di hari panenan kita. Berapakah hasil yang dibawa sebagai persembahan kita kepada-Nya?

Monsignor Inno Ngutra, Pr