Kelana Kampung dan Kota -84
Simply da Flores
Mata Bulan di Atas Atap

Aku mendekap sepi di gubuk bambu
tetapi ragaku dipeluk erat gulita dalam kamarku
Senja telah pergi beberapa saat lalu
Aku yakin bisa berlari sembunyikan wajahku
Dari gugatan mengusik sesama saudaraku
Dari hiruk pikuk zaman penuh galau
Dari kegagalan dan aneka problema hidupku
Dari gengsi dan bara api rasa malu
Tanpa kusadari, bahwa saat ini ada purnama
Aku juga tak tahu, bahwa atap pondok berlubang, karena reot tua
Saat terjaga dari tidur nalar dan rasa
ternyata sorot mata bulan bercahaya
menembus atap kebodohan dari angkasa
Gulita perlahan lepaskan pelukan mesra
Sunyi sepi berubah jadi tanya resah
karena ada sepoi suara bergema
ingatkan hakikat diriku di telapak semesta
“Wahai saudaraku
Ke mana pun engkau lari bersembunyi
entah dalam labirin sunyi sepi
entah tanpa berjumpa dengan sesama insani
Tetapi…
desah nafasmu menegaskan fakta
ketergantungan mutlak pada sesama dan alam semesta
Sehebat apa pun engkau ingkari kodrat jiwa raga
sadarlah darah dagingmu terikat dengan alam dan sesama saudara”
“Semakin rasa dan nalarmu berlari ke dalam diri
engkau akan semakin bertemu sejuta wajah sesama
yang menulis sejarah kelana hidupmu
Ketika ragamu diasingkan dari relasi dengan sesama saudara
Engkau hanya temui semakin kuat suara mantra semesta
bahwa engkau terikat mutlak dengan mereka dan alam jagat raya”
Mataku tak bisa berpaling dari cahaya
aku coba ke luar kamar menuju halaman pondok
Aneka musik alam terdengar seperti simfoni
Cahaya bulan tersenyum dan bintang-bintang tertawa
Saksikan aku ke luar dari sunyi sepi kepada hening damai
karena tinggalkan kebodohan diri meraih pesona harmoni
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.