Merajut Tali Kasih

“Menghidupi semangat silaturahmi, karena kami peduli dan mengasihi mereka.” -Mas Redjo

Semangat peduli untuk silaturahmi, mengunjungi warga lansia itu saya terinspirasi dari keguyupan umat di Wilayah M. Penggagasnya, Pak AN yang menyadarkan kami, bahwa kelak kami semua akan menua.

“Jangan diabaikan dan ditinggalkan mereka yang menua. Tapi peluklah dengan cinta, bahwa mereka tidak dilupakan!”

Ketika kami mengunjungi Pak K yang tinggal sendirian, karena istrinya telah lama meninggal. Hal itu mengingatkan saya dengan keadaan orangtua sendiri. Karena cepat atau lambat, anak-anak kita dewasa dan menikah. Apalagi, jika anak-anak itu merantau, karena bekerja, dan rumah saling berjauhan satu dengan yang lain.

Sebagai orangtua, apakah kita siap untuk menerima kenyataan itu?

Faktanya, banyak dari orangtua yang tidak memikirkan semua itu. Apalagi menyiapkan hati dan berjiwa besar untuk menerima kenyataan, bahwa kita lahir dan mati itu sendiri.

Ide untuk merajut tali kasih itu saya sampaikan ke beberapa teman, dan gayung disambut. Mereka positif, semangat, dan mengusulkan iuran tahunan untuk membantu teman yang sakit atau kesusahan. Selain itu dengan mengadakan arisan tiga bulan sekali untuk sarana kangen-kangenan, bernostalgia, dan itu pasti gayeng!

Merajut tali kasih, jika dilakukan secara nyata dan konsisten itu tidak sekadar mempererat hubungan dan mengakrabkan pertemanan (antar warga), tapi sekaligus agar kami makin guyup rukun!

Semangat peduli untuk silaturahmi itu harus dihidupi, karena teman lansia itu sesungguhnya bagian dari keluarga kita sendiri!

Kami tidak melupakanmu. Kami selalu ada dan hadir untukmu. kawan!

Mas Redjo