Gaya Pesta dan Gaya Puasa

Seorang remaja perempuan merayakan ulang tahunnya ke-17 dengan meriah. Kebanyakan yang hadir itu teman-teman sekolahnya, dan membawa hadiah baginya. Keluarga juga menyiapkan hadiah spesial bagi gadis sulung dari tiga bersaudara itu. Perayaan pesta itu dirayakan di pinggir pantai dengan suasana yang sangat alami dan cuacanya sangat cerah.

Sebuah pesta berisi perjumpaan, pembicaraan, cerita, makan-minum, hal-hal seremonial, bernyanyi, berjoget, bersuka-ria, santai dan menikmati kegembiraan satu sama lain. Dalam pemahaman seperti ini, jelas sekali gayanya sebuah pesta sangat berbeda dengan sebuah puasa. Gaya pesta adalah sebuah dunia lain dari pada gaya puasa.

Di dalam berpuasa, aspek terpenting di sini ialah mengalami sebuah ketiadaan dan ketidakhadiran. Aspek-aspek dari bagian itu ialah seperti tidak makan minum, tidak ada suasana suka ria seperti musik, menyanyi, joget, dan pertemuan.

Ada suatu pemahaman, bahwa Yang Maha Tinggi yang jadi tujuan kegiatan berpuasa itu tidak dekat dan tidak hadir saat kita berpuasa. Jadi melalui puasa itu kita dapat memiliki kesempatan untuk lebih fokus mencari dan jadi dekat dengan-Nya.

Perbedaan dua gaya inilah yang ditampilkan dalam Injil, di mana murid-murid Yohanes dan orang-orang Yahudi pada umumnya tidak menyadari, bahwa Yesus sebagai Tuhan sedang berada bersama mereka. Mereka menganggap Tuhan sangat jauh, Ia harus dicari dan diminta kedatangan-Nya. Caranya ialah dengan berpuasa. Sementara para Rasul dan murid-murid Yesus sedang mengalami sukacita dan pesta, karena Tuhan Yesus bersama mereka. Ketika Yesus tidak bersama lagi dengan mereka, barulah mereka berpuasa.

Bagi kita saat ini, puasa itu tetap penting, demikian juga pesta. Gereja telah memberikan kesempatan yang teratur bagi kita sebagai umatnya untuk menjalankan sesuai itu. Puasa personal sering jadi pilihan, ketika orang ingin melakukan suatu latihan rohani tertentu. Pesta juga dilaksanakan baik secara bersama maupun personal sebagai kesempatan merayakan kehadiran bersama, Tuhan dan manusia. Pokoknya, masing-masing dijalankan dengan baik, teratur dan tak boleh dicampur-adukkan. Kita perlu saling menghormati saat ada kegiatan pesta dan puasa. Kita perlu menghindari perbuatan mengganggu dan intervensi mereka yang berpuasa dan berpesta.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, kami ingin mengikuti ajaran-Mu tentang berpuasa dan bermati raga. Kami mohon bimbingan selalu di dalam Roh-Mu untuk menjalankannya dengan benar dan baik. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)