Kelana Kampung dan Kota -79
Simply da Flores
Jika Ada Batu di Nurani Sanubari

1.
Ada kalimat yang biasa didengar
“Kuman di seberang lautan tampak,
Balok di mata sendiri tak kelihatan”
Dua bola mata untuk melihat
namun sering tergantung pemiliknya
Pilihannya mau melihat apa dan siapa
relasinya dengan selera dan kepentingan
Dan
ada godaan yang biasa memenangkan
lebih suka melihat kekuarangan orang lain
Lebih gampang menilai kesalahan sesama
Entah…
apakah diriku tak ada kekuarangan
adakah pribadiku tanpa kesalahan
Mengapa dan untuk apa demikian?
2.
Ada lagi kalimat pengingat
“Seperti duri di dalam daging
Dan ada kerikil di dalam sepatu”
Tak ada yang nyaman tertikam duri
dan durinya tertinggal di dalam daging
Benda asing yang sungguh menyakitkan
entah karena keteledoran pribadi
entah datang tak diundang
Karena daging yang tertusuk pasti sakit
Dan
Ketika ada kerikil masuk di sepatu
dan terinjak saat berjalan
juga tidak memberi kenyamanan bagi telapak
Bahkan dirasakan sebagai gangguan yang menjengkelkan
Maka…
harus segera dienyahkan dan dibersihkan
tak ada yang bersukacita dengan halangan dan masalah
3.
Ketika di jalanan menumpang bis kota
Sering membaca tulisan di stiker
“Sesama Bis Kota dilarang saling mendahului”
Namun…
demi mendapat penumpang dan meraih rezeki
Bukan saja saling berlomba dan mendahului
bahkan ada yang bertabrakan demi berebut penumpang
Banyak kejadian saling berlomba dan bermusuhan
karena peluang sedikit, tetapi yang membutuhkan banyak
Bahkan demi meraih kebutuhan dan rezeki
segala cara berani dilakukan
termasuk yang curang, licik dan jahat
4.
Aku coba bayangkan pengalaman lain
Ketika ada debu atau kotoran masuk ke bola mata
maka kebutuhan melihat sungguh terganggu
Apalagi yang cedera dan luka matanya
dan mereka yang cacat buta matanya
Bagaimana berjuang untuk beraktivitas
dan menyadari pentingnya mata untuk melihat
Lalu…
saat perasaan tertikam duri
dan kerikil tajam menusuk emosi
apakah ada sukacita dan damai
Dan
Dalam pikiran tertumpuk sampah dan kotoran
bisakah bernalar sehat, waras dan bijak
Apalagi…
Jika hati nurani kering merana
dan sanubari jiwa buta
karena ada batu problema yang menghimpit
Dapatkah pribadi melangkah lincah bersemangat
Adakah kelana ziarah berjalan nyaman?
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.