Melawan Hoaks ala Santo Thomas, Rasul

“Kadang kita meragukan kebenaran Firman Tuhan, tapi langsung percaya dengan berita hoaks yang terpoles indah dengan kata-kata manis.”
Seraya merayakan Pesta St. Thomas, Rasul, kita disadarkan, bahwa sifat ragu dan ketidak-percayaan Thomas terhadap cerita tentang kedatangan Sang Guru patut dicela. Karena relasi yang dekat di antara mereka, yang seharusnya sudah mengikis habis keraguan mereka terhadap Sang Guru sebagai Tuhan. Di lain pihak, sifat tidak percaya Thomas menunjukkan karakter tegas seorang murid Tuhan, bahwa sebuah berita harus diuji kebenarannya.
Dengan demikian, kisah St. Thomas mengajarkan kepada kita, bahwa:
- 1) Karakter St. Thomas menuntun kita pada keharusan untuk merecek kembali sebuah berita sebelum disebarkan kepada orang lain;
- 2) St. Thomas tidak ingin jadi penyebar berita hoaks atau bohong kepada orang lain. Kasihan mereka yang ditipu dan tertipu, karena berita hoaks yang kita sebarkan;
- 3) St. Thomas mengajarkan sebuah peralihan dari ketidakpercayaan kepada percaya sepenuhnya. Ia tidak lagi mencari dalil atau memutarbalikan kebenaran, bila kebenaran sudah memeluk erat dia.
Akhirnya, marilah kita sadar, bahwa:
- 1) Sifat ketidakpercayaan juga melekat, bahkan membuat kita melebelkan orang lain, sehingga mereka yang sudah hitam hidupnya akan terus jadi hitam sampai selamanya;
- 2) Kadang kita juga jadi penyebar hoaks terhadap sesama dan sahabat kita hanya karena iri hati dan dendam kita.
Mari meminta kepada Tuhan agar mengubah hati kita yang keras membatu itu jadi hati yang lemah lembut.
Monsignor Inno Ngutra, Pr