Hati yang Terbuka pada Panggilan Tuhan

“Ketika Allah memanggilnya, ia setia. Kesetiaannya itu bukan pada jabatan atau popularitas, melainkan pada Pribadi yang memanggilnya.”
Allah yang Maha Rahim, Engkau memperlihatkan dua macam hati: hati yang tertutup dan menolak kebenaran-Mu, dan hati yang terbuka serta percaya pada belas kasih-Mu.
Amos menunjukkan hati yang terbuka pada panggilan Tuhan. Ia hanyalah seorang gembala, bukan Nabi profesional. Ketika Engkau memanggilnya, ia setia. Kesetiaannya bukan pada jabatan atau popularitas, melainkan pada Pribadi yang memanggilnya.
Saat Amazia menolak dan menyerangnya, Amos tidak terpancing untuk menghakimi atau membela diri secara emosional. Ia tetap tenang menyampaikan yang Engkau taruh dalam hatinya, lalu membiarkan Tuhan sendiri yang menanggapi penolakan itu. Amos mengerti: tugasnya adalah setia, bukan menghakimi.
Dalam Injil, Yesus menunjukkan, bahwa tidak ada satu pun hati yang tersembunyi dari-Nya. Ia melihat hati yang keras dan menolak-Nya, seperti para ahli Taurat, maupun hati yang penuh harap dan percaya, seperti mereka yang membawa orang lumpuh.
Yesus juga menunjukkan prioritas Kerajaan Allah. Ia melihat, bahwa kebutuhan terdalam manusia bukan pertama-tama kesembuhan fisik, melainkan kesembuhan rohani. Kelumpuhan tubuh membatasi hidup di dunia ini, tapi dosa dapat melumpuhkan jiwa sampai kehidupan kekal.
Kata-kata pertama Yesus bukanlah, “Bangun dan berjalan,” melainkan: “Dosamu sudah diampuni.” Ia menyembuhkan akar sebelum buahnya, jiwa sebelum tubuhnya.
Belas kasih-Mu begitu sempurna, Bapa. Putra-Mu tidak hanya peduli pada keselamatan kekal kami, tapi juga pada pergumulan hidup kami. Ia mengampuni, menyembuhkan, dan memulihkan.
Sering kali kami pun seperti Amazia atau para ahli Taurat. Kami lebih suka dihibur daripada ditegur. Kami ingin disembuhkan, tapi tidak selalu mau bertobat.
Padahal sabda-Mu sempurna, menyegarkan jiwa. Kebenaran-Mu bukan untuk menghancurkan kami, melainkan untuk memulihkan kami.
Bapa, ajar kami untuk dengan rendah hati tunduk pada otoritas Yesus. Berilah kami hati yang setia, terbuka pada koreksi, berani bertobat, dan percaya pada belas kasih-Mu.
Bersabdalah, Bapa. Sembuhkan yang terluka. Bebaskan yang terikat. Kuatkan yang lemah.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)