Kelana Kampung dan Kota -77
Simply da Flores
Antara Aku dan Anak-anak

1.
Pada mulanya aku tak tahu apa pun
karena tak punya data untuk berpikir
karena tak punya pengalaman untuk memilih dan memutuskan
“mengapa aku jadi janin dalam rahim Ibuku?”
Setelah waktunya tumbuh kembang
aku terlahir ke dunia ini
dan tanya pertamaku adalah dengan tangisan
Mungkin karena tarikan nafasku dari udara alam jagat
dan tidak lagi dalam kenyamanan rahim Ibu
mungkin karena kaget dan ketakutan
mungkin karena tak pernah meminta terlahir
Sedangkan…
orangtua dan sanak keluarga
menyambut dengan senyum tawa bahagia
sambil mencatat pada lembaran ziarahku
Dengan doa syukur terima kasih
dengan bangga penuh sukacita
dengan cita-cita rindu damba
“Aku jadi apa dan siapa menurut mereka”
2.
Fakta kehidupan harus dialami
melewati masa bayi dan anak-anak
Suka duka dilalui dalam pasrah
Ada aneka kisah ditulis dalam jiwa raga
ada beragam cerita dilukis dalam pikiran
ada bermacam sosok wajah direkam dalam rasa
ada tanya dan misteri menggores nurani sanubari
Dari tradisi adat budaya diwariskan
larangan dan aturan untuk bisa memilih berkelana
Dari sekolah diajarkan ilmu dan keterampilan
bagaimana memahami realitas dan membuat pertimbangan
Dari agama diajarkan tentang Tuhan, Surga dan Neraka
serta jalan keselamatan bagi jiwa raga
Dari negara ada hukum dan berbagai dinamika politik
Dari pasar membanjir aneka tawaran dan harga
“Aku ini siapa dan untuk apa terlahir”
3.
Ketika berkelana semakin dewasa
Aku harus membuat pilihan dan keputusan berkeluarga
Rasanya bangga mempunyai anak keturunan
karena kuyakini sebagai harta milik yang tak ternilai
“Anak-anak adalah harta milikku
Aku berhak penuh menentukan nasib mereka”
Maka…
ada berbagai upaya menulis jiwa raga mereka
seperti pikiran dan kehendak diriku
Ada aneka upaya dan keputusan
coba kuatur agar terlukis jadi sosok wajah mereka
Aku mau mereka jadi apa dan siapa
sesuai kehendakku sebagai orangtua
Namun…
ternyata aku salah berpikir tentang mereka
Anak-anak bukan barang milikku
Seperti aku pun bukan milik pribadiku dan orangtuaku
4.
Hari ini…
Aku disadarkan sepoi angin membelai nafasku
Aku diajarkan debu tanah menopang ragaku
dan berkas cahaya mentari menyinari ubun-ubun
Aku datang terlahir tidak meminta
sama seperti lahirnya mereka anak-anakku
Aku pasti akan pulang mati dan tidak mampu membatalkan fakta
demikian juga nasib anak-anakku
Hidup ini hanya ziarah kelana
untuk menjalani inkarnasi kreasi Sang Ilahi
untuk melewati fakta, tanya dan misteri
Rupanya….
hakikat sejati diriku dan anak-anak
adalah titipan semesta dan kreasi rencana Sang Ilahi
dalam dinamika inkarnasi dan perubahan alam jagat semesta
Aku tak punya apa pun dan mutlak tergantung pada semuanya
Sejatinya…
Aku bukan apa-apa dan siapa-siapa
dalam putaran dinamika jagat semesta
Oleh kreasi misteri Sang Ilahi
Anak-anak bukanlah barang untuk bisa dimiliki