Kelana Kampung dan Kota -75
Simply da Flores
Kanvas Cahaya Putih Para Bocah

1.
Cahaya surya tersenyum
Angin semesta berhembus
Mantra inkarnasi menggema misteri
Anak-anak kehidupan terlahir
membawa titipan kanvas putih bercahaya
untuk bermain kreasi antara tanya dan jawaban
Datang tak meminta hingga pulang tak mampu membatalkan
Tak ada yang tuntas dipahami nalar yang terbatas
antara ada dan tiada
antara misteri dan fakta realita
antara selera nalar manusia dan hukum semesta
Antara kemampuan pikiran manusia dan kehendak Sang Pencipta
2.
Lahirnya setiap anak manusia ke dunia
Sering dicatat sebagai jawaban doa
Jawaban rindu damba para orangtua
Yang coba menulis dengan bahasa pada wajah anaknya
Yang yakin melukis dengan busana pada raga sang buah hatinya
Kehidupan ada dan terjadi
antara fakta, tanya dan misteri
tetapi sering dipenjara dalam keyakinan pasti
dengan pikiran, selera dan gengsi
Bahkan diwariskan dalam tradisi
sebagai kebenaran mutlak atas nama Sang Ilahi
Padahal…
hanya sedikit yang bisa dimengerti
3.
Sering dilupakan dan diabaikan
bahwa setiap anak manusia datang membawa tanya
Tanya yang jadi nafas putra-putri cahaya
Untuk bermain ceria melumat debu tanah dan isi bumi
Untuk bercanda dengan bulan bintang dan isi angkasa
Untuk terbang dengan sayap angin melintas jagat raya
yang melekat merangkul jiwa raga
Anak-anak adalah Misteri Ilahi yang menjelma jadi fakta
Sabda Cinta yang mewujud dalam darah daging raga jiwa
4.
Ada yang pernah tegaskan kalimat amanah
sebagai teguran kepada orang dewasa
“Biarkanlah anak-anak datang pada-Ku
Sebab mereka adalah sahabat-sahabat-Ku
Merekalah yang empunya Surga dan jawaban sempurna
Jangan menghalangi mereka datang pada-Ku
dengan mimpi dan imajinasi kalian
dengan rindu damba papa kalian
dengan bahasa tradisi miskin kalian
Jangan bebani anak generasi dengan selera dan kebodohan
Mereka adalah pembawa cahaya Ilahi yang merdeka penuh cinta”
5.
Mungkin saatnya perlu kritisi warisan kebiasaan
Peradaban adalah skenario sandiwara
yang terus ditulis dari zaman ke zaman
agar bisa dipentaskan di panggung dunia
Setiap orang dipaksa melakoni peran
meskipun sejatinya sudah punya amanah semesta
Ziarah kelana kehidupan dihiasi topeng anomali
yang menagih pribadi memilih sendiri
Entah yang bergengsi atau hakiki sejati
Entah selera nalar pribadi atau hukum semesta
Entah…
masih adakah tempat untuk Sang Ilahi
atau nalar, nurani jiwa buta dan mati