Jaga Perasaan Orang Lain

“Pribadi yang mudah tersulut emosi itu disodori penyesalannya sendiri.” –Mas Redjo

Ketimbang menyesal di belakang, lebih bijak kita mengendalikan diri, panjang sabar, dan berkata-kata baik untuk menjaga perasaan orang lain.

Tidak ada alasan! Meski lawan bicara itu berkata-kata nyelekit, memojokkan, dan menyakiti. Kita tidak harus ‘sensi’, tersinggung, lalu membalasnya.

Camkan! Orang yang mudah emosi itu bukti pribadinya labil dan tidak dewasa. Bisa juga, (maaf) teman kita salah bicara, khilaf, bercanda, dan konyolan.

Jangan bilang, karena teman itu mengulang kata-kata nyelekit dan memerahkan telinga. Sejatinya yang terjadi adalah sifat ego kita yang tidak bisa menerima hal itu, dan mudah tersinggung.

Berdebat untuk hal-hal yang tidak bermutu dan kontra produktif itu tiada guna. Kita pun capai sendiri. Apalagi, jika hal itu di simpan di hati bakalan jadi sumber penyakit, meracuni jiwa, dan hubungan pertemanan pun tidak sehat, retak atau bahkan jadi bermusuhan.

Alangkah bijak, kita belajar sabar untuk mengendalikan diri dan mulut ini. Kita membiasakan untuk berpikir dulu sebelum bicara. Mengontrol ucapan lisan dan perilaku, karena kita adalah pribadi yang berkualitas serta rendah hati.

Selalu menjaga perasaan orang lain, kita menjaga hati sendiri!

Mas Redjo