Oleh Simply da Flores
Red-Joss.com | Tata kelola kampung dan lingkungannya sangat berhubungan dengan keadaan potensi alamnya, baik untuk ketersediaan makanan maupun obat-obatan. Kehidupan dalam komunitas tradisi di kampung-kampung adat budaya, biasanya di perbukitan, lembah, pinggir sungai dan pesisir pantai.
Di daerah pegunungan, pemukiman kampung umumnya di atas bukit. Kebun ladang di lereng dan lembah. Ada banyak cerita dan kisah dari masing-masing tradisi. Jika pemukiman di pinggir sungai atau dekat pantai, umumnya karena mata pencaharian masyarakatnya nelayan dan berdagang. Maka pemukiman ada dekat sungai dan pantai, agar alat transportasi bisa gampang diakses.
Obat-obatan dan makanan diperoleh dari usaha berladang, serta mengambil dari ketersediaan alam yang dikenal; entah di hutan pegunungan, lembah dan tepi sungai. Khusus obatan tertentu justru dipelihara dekat rumah, karena sekalian sebagai bumbu masak. Misalnya kunyit, kencur, temulawak dan beberapa dedaunan lainnya. Para dukun kampung jauh lebih mengenal habitat tanaman obatan yang ada di keliling kampung maupun lokasi tertentu di hutan.
Makanan tradisional antara lain padi, jagung, ubi-ubian, aneka jenis kacang, olahan sagu, sayuran, buah-buahan serta makanan hasil berburu, makanan dari sungai dan laut. Sebagian sudah menjadi tanaman di kebun ladang, sebagian lain bersumber dari kemurahan alam lingkungan sekitar. Karena itu, musim pun sangat berpengaruh pada pola makan.
Pengalaman setiap komunitas tradisi di kampung akan menjadi sumber pengetahuan dalam mengelola makanan tradiai serta obat-obatan. Kekayaan pengetahuan dan teknologi untuk mengelola makanan dan obat-obatan, sangat mempengaruhi kesehatan dan kualitas hidup pribadi dan komunitas. Karena itu, tradisi konsumsi dan obat-obatan sangat mempengaruhi daya tahan generasi serta identitas budaya dari komunitas tradisi yang bersangkutan.
Zaman sekarang, sudah banyak kemajuan IPTEK dan ikut juga mempengaruhi pola konsumsi instan dan penggunaan obat-obatan pabrik.

