“Datang kepada Yesus, bukan dengan kesombongan atau jabatan, melainkan dengan kerendahan hati dan iman.”
Allah yang Maha Rahim, Sabda-Mu membawa kami dari ratapan menuju pemulihan, dari kehancuran menuju kesembuhan.
Dalam Kitab Ratapan, Yerusalem menangis, karena luka akibat dosa. Semuanya terasa hancur. Tapi di tengah kehancuran itu, Engkau mengundang umat-Mu: “Curahkanlah isi hatimu seperti air di hadapan Tuhan.”
Itulah yang dilakukan perwira dalam Injil. Ia datang kepada Yesus. Bukan dengan kesombongan atau jabatan, melainkan dengan kerendahan hati dan iman. Sebagai seorang militer, ia mengerti arti otoritas. Karena itu ia langsung mengenali otoritas Ilahi dalam diri Yesus. Katanya: “Ya Tuhan, aku tidak pantas… tetapi bersabdalah saja…”
Betapa indah, Bapa: seorang asing justru menangkap yang banyak orang Israel gagal pahami: bahwa kuasa Putra-Mu melampaui jarak, sakit penyakit, dan segala keterbatasan manusia.
Kini, kata-kata perwira itu jadi doa kami sebelum Komuni Kudus. Kami mengakui ketidaklayakan, tapi juga percaya penuh pada belas kasih-Mu.
Kami juga datang membawa luka-luka kami. Terluka secara fisik, lelah secara batin, ketakutan, kesedihan, atau beban yang tidak terlihat. Tapi Engkau mengingatkan kami: Tidak ada luka yang terlalu berat bagi Yesus. Bersabdalah saja, Bapa, maka kami akan sembuh.
Pulihkan hati kami, agar setelah disentuh oleh-Mu, kami juga bangkit untuk melayani seperti halnya Ibu mertua Petrus.
Ajarlah kami datang kepada-Mu dengan kerendahan hati perwira itu, kejujuran Yerusalem, dan kepercayaan penuh kepada Kerahiman Ilahi.
Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

