Setiap dari kita mendambakan kehidupan yang baik dan sehat. Kesehatan jadi salah satu prioritas dalam menjalani kehidupan ini. Dengan kesehatan yang baik dan tubuh yang kuat agar aktivitas kita dapat berjalan baik pula.
Hidup di zaman yang sangat maju dengan kecanggihannya itu ternyata membawa sakit kepada banyak manusia, baik fisik maupun mental, tubuh maupun jiwa. Yang lebih rentan itu ialah jiwa. Karena manusia mulai terikat dengan hal dan barang duniawi, lalu memberi ruang kepada Iblis yang membuat manusia jadi nyaman dan menutup kesempatan untuk bersatu dengan Allah. Manusia mulai kurang percaya pada Allah, dan terus memakai pikiran dan ide-idenya sendiri sehingga membuatnya terkenal. Tanpa disadari hal ini menciptakan keterpisahan dirinya dari Allah.
Manusia lebih memilih kehidupan dengan gaya instan, tapi ternyata melukai jiwanya sendiri. Jiwa ini perlahan mengalami kehilangan yang dituntut oleh Allah, yaitu dasar iman dan buah-buah Roh. Kedamaian, sukacita dan kasih itu diganti dengan amarah, benci, dan keserakahan. Hal ini merupakan penyakit dalam kehidupan masa kini. Kita perlu sembuh. Kita butuh pentahiran.
Dalam Injil, Tuhan Yesus menjamah dan menyembuhkan orang sakit kusta yang datang memohon penuh kerendahan hati dan iman yang besar. Ia rindu untuk sembuh. Sakit kusta adalah sakit yang dijauhi oleh orang-orang, dibuang, dan disingkirkan. Ia sesungguhnya sakit fisik dan metal, tubuh dan jiwanya. Tuhan Yesus hadir dengan belas kasih-Nya yang merangkul, memberkati dan menyembuhkan.
Untuk sembuh, kita dapat belajar dari orang sakit kusta itu. Kita perlu menyadari, bahwa kita juga sakit dan berdosa. Kita membutuhkan belas kasih Tuhan Yesus. Kita datang kepada-Nya dengan iman yang besar dan kerendahan hati untuk disembuhkan dari sakit, kelemahan, dan kedosaan. Setelah sembuh, kita menjaga relasi dengan Allah agar tidak kembali goyah dan rusak. Kita jadi saksi-Nya di dunia. Dengan jamahan Tuhan yang menyembuhkan itu, beban hidup kita jadi ringan dan tahirlah kita.
“Ya, Allah Bapa, kami bersyukur atas sabda-Mu yang hidup dalam diri Yesus yang adalah palung sungai yang menyegarkan jiwa yang haus akan kehadiran-Mu. Kami mohon, tetapkan tinggal di hati agar semangat membaca dan merenungkan firman-Mu sebagai jalan, kebenaran dan hidup. Kami tidak sakit lagi, sebab firman-Mu mentahirkan kami. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

