“Yang manis itu kadang menipu, kadang yang pahit justru jujur.” -Rio, Scj.
Masih tentang kopi. Sesempurna apapun kopi yang kita seduh, tetaplah kopi yang menyimpan sisi pahit. Pahitnya kopi sesuatu yang tak mungkin kita ingkari. Kopi itu terlalu jujur. Ia tak suka tampil manis, apalagi berpura-pura manis. Begitulah kopi yang memberi pesan indah. Bukankah ia sempurna justru karena rasa pahitnya. Begitu pula hidup, perjuangan, kasih dan hidup di dunia.
Awali hari dengan rasa cukup, agar pahit menjadi indah. Cukup itu nikmat. Kita nggak harus punya segalanya untuk bahagia. Kadang yang sederhana, justru paling menenangkan. Cukup itu bukan berarti kurang, tapi tanda kalau hati udah belajar bersyukur.
Selama kita bisa merasa tenang dengan apa yang ada, nggak iri dan nggak memaksa diri, di situlah sebenarnya berkat Tuhan paling besar yaitu rasa cukup dan hati yang damai.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

