“Kesalahan dan dosa memang melukai hati Tuhan dan sesama. Tapi perihnya sakit, karena luka itu lebih menyiksa kita daripada menyiksa Tuhan dan sesama kita. Ya, Tuhan dan sesama yang terluka tapi kitalah yang tersakiti.”
Kisah penyembuhan orang kusta dalam Injil menyisakan 3 hal penting, yakni; damai dengan Tuhan, dengan keluarga/komunitas dan masyarakat di mana si kusta itu hidup. Perintah Yesus jelas menyatakannya: “Sebelum pulang rumah, pergilah kepada Imam, persembahkanlah persembahan.”
Kita disadarkan, bahwa:
- 1) Kesalahan dan dosa yang kita perbuat itu selalu melukai Tuhan, merugikan sesama/keluarga/komunitas dan diri kita sendiri;
- 2) Dosa dan kesalahan yang kita perbuat itu tidak hanya merusak hubungan kita dengan Tuhan, tapi juga keluarga, sesama dan akhirnya mengurung dan mengikat diri kita sendiri;
- 3) Kesembuhan dari sakit dan penyakit itu tidak hanya menyangkut tubuh ini, tapi juga psikis/jiwa dan roh kita.
Akhirnya sadarlah, bahwa kesalahan dan dosa itu memang mengikat, tapi pertobatan dan pengampunanlah yang membebaskan dan menjadikan kita manusia baru.
Monsignor Inno Ngutra, Pr

