Ketika Yesus mengumpamakan bangunan yang tidak kuat menghadapi bencana hujan, banjir, dan topan yang bakal menghancurkannya, Ia sejalan dengan pemikiran penulis Kitab Amsal, “Ketika angin-topan melanda, orang-orang berdosa ikut dibinasakan, tapi orang-orang benar akan bertahan sampai selamanya” (Ams 10: 25).
Ada dua orang Ibu saling berbagi cerita tentang anaknya masing-masing yang kuliah di kota yang berbeda. Orangtua dan keluarga masing-masing di kampung sangat berharap agar anaknya tekun dengan hidup rohaninya, meski mereka juga harus tekun belajar. Pada waktu masih berada di rumah dan sebelum kuliah, mereka tekun berdoa pribadi, di lingkungan, dan perayaan Misa tiap hari Minggu.
Ketika jauh dari rumah, ceritanya berubah. Satu dari dua mahasiswa itu memiliki cerita yang menggembirakan. Suasana tempat kos, pergaulan, dan di kampus itu menuntutnya harus memiliki ketahanan rohani yang kuat. Kebiasaan doa pribadinya jadi semakin kuat. Ia aktif terlibat kegiatan kepemudaan di Paroki. Ia tekun dengan Misa hari Minggu, bahkan juga misa harian. Mahasiswa ini adalah sebuah rumah batu rohani, seperti yang digambarkan oleh Yesus dalam Injil.
Cerita mahasiswa yang lain justru sangat berbeda. Lingkungan hidup di kota telah mengubahnya jadi seorang muda penentang, berwatak keras, dan suka terlibat kejahatan. Beberapa kali ia jadi target pihak keamanan, tapi selalu lolos. Kehidupan rohaninya kacau-balau. Ia mengakui sebagai orang beriman yang percaya pada Kristus, tapi kehidupannya sangat bertentangan dengan imannya. Orang muda ini adalah contoh bangunan rumah pasir yang juga digambarkan oleh Injil.
Iman yang tumbuh sebagai rumah batu merupakan suatu kehidupan yang dijalani oleh orang-orang beriman dengan dua ciri penting, yaitu mendengarkan perkataan Tuhan dan melakukannya di dalam kenyataan. Sebaliknya mereka yang mendengarkan, tapi tidak melakukan, mereka itu tergolong kehidupan iman sebagai rumah pasir. Di dalam kehidupan kita, sering terdapat dua jenis orang ini yang hidup di dalam satu keluarga, komunitas, lingkungan, dan Gereja. Di sini terjadi ujian sesungguhnya. Masing-masingnya berusaha untuk menang.
Jika rumah batu kehidupan iman itu lebih kuat, kuasa dan kemuliaan Tuhan akan merajai seluruh kehidupan kita. Jika rumah pasir yang kuat, maka bencana akan segera melanda kehidupan kita, seperti pengalaman pahit bangsa Israel yang dikalahkan dan dibuang ke Babel.
“Ya, Tuhan, berkatilah kami dengan pertumbuhan iman yang sehat dan dewasa agar kami dapat berkontribusi dalam memperkuat Kerajaan Allah di dunia ini. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

