Jalan Kasih menuju Kehidupan
“Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.”
Allah yang Maha Rahim, Sabda-Mu menunjukkan, bahwa selalu ada dua jalan di hadapan kami: jalan lebar dan jalan sempit; jalan ketakutan dan jalan iman; jalan ego dan jalan kehidupan.
Ketika Raja Hizkia menerima ancaman mengerikan dari Asyur,
ia tidak dikuasai panik, marah, atau putus asa. Ia membawa surat ancaman itu ke hadapan-Mu dan membentangkannya di hadapan-Mu. Ia memilih berdoa sebelum bereaksi, beriman sebelum ketakutan itu mencengkeram.
Sering kali kami justru melakukan kebalikannya. Ketika masalah itu datang, kami bereaksi terlalu cepat. Dikritik, kami langsung membela diri. Godaan itu datang, kami layani dengan sembrono. Ketakutan itu datang, kami membiarkan itu menguasai pikiran kami.
Di zaman digital ini, “surat-surat ancaman” itu datang terus melalui layar HP/komputer, yaitu godaan yang merusak kemurnian hati, suara-suara yang menganggap dosa itu normal, berita yang menimbulkan kecemasan, dan hiburan yang membuat jiwa ini jadi tumpul.
Yesus mengingatkan kami untuk menjaga yang kudus dan berharga. Ajarlah kami untuk tidak menganggap dosa sebagai hal ringan, tidak mengabaikan Sakramen tobat, menerima Ekaristi dengan sembarangan, dan tidak membiarkan hati kami kehilangan rasa hormat terhadap hal-hal kudus.
Yesus juga memberi kami kaidah emas: “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka.” Inilah jalan sempit: jalan kasih yang tidak mudah, populer, dan sering melawan arus. Tapi justru itulah jalan yang menuju kehidupan.
Bapa, tolong kami memilih jalan ini: Saat ketakutan berbicara keras, ingatkan kami bahwa Engkau jauh lebih besar. Dunia menawarkan jalan pintas yang mudah, kuatkan kami untuk memilih kekudusan. Kami tergoda bereaksi menurut emosi, ajar kami untuk terlebih dahulu datang kepada hadirat-Mu.
Semoga keluarga kami jadi tempat di mana yang kudus dihargai, kehidupan dijaga, kebenaran disampaikan dalam kasih, dan Kristus dimuliakan di atas segalanya.
Ketika Engkau beserta kami, seperti Yerusalem dahulu, kami tidak perlu takut untuk berjalan di jalan-Mu.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)