“Kuasa doa lahir bukan dari banyaknya kata, melainkan dari keintiman dengan-Mu.”
Allah yang penuh belas kasih,
Sabda-Mu mengajarkan kami arti doa yang sejati.
Melalui Nabi Elia, Engkau mengingatkan kami. Doanya begitu berkuasa, bukan karena kata-katanya panjang atau indah, melainkan karena hatinya sungguh milik-Mu. Melalui dirinya, api turun dari langit, orang mati dibangkitkan, dan hati umat dibalikkan kembali kepada Allah yang hidup. Elia menunjukkan, bahwa kuasa doa lahir bukan dari banyaknya kata, tetapi dari keintiman dengan-Mu.
Pemazmur mewartakan: “Tuhan adalah Raja.” Api berjalan di hadapan-Mu, dan segala berhala luluh di hadirat-Mu. Bapa, berhala apa yang masih diam-diam menguasai hati kami? Kesuksesan, kenyamanan, uang, reputasi, kontrol, atau penilaian orang lain. Semua itu bisa baik, bila mengambil tempat-Mu, semuanya jadi allah palsu.
Yesus Putra-Mu mengajarkan kami cara berdoa. Ia mengingatkan agar kami tidak berdoa seperti orang yang ingin dilihat atau merasa doa panjang pasti lebih didengar. Engkau bukan Allah yang jauh dan harus dibujuk untuk peduli. Bahkan sebelum kami meminta, Engkau sudah tahu kebutuhan kami. Yesus memberikan doa yang membuka hati-Nya sendiri kepada kami: Bapa Kami.
Sungguh betapa besar rahmat ini. Kami boleh memanggil-Mu Bapa, Abba, Papa. Melalui Yesus, kami diundang masuk dalam keintiman-Nya dengan-Mu. Doa bukan pertama-tama soal meminta sesuatu, melainkan menyatukan hati kami dengan hati-Mu.
Saat kami berdoa, “Dimuliakanlah nama-Mu,” ajar kami menempatkan Engkau di atas segalanya.
“Datanglah kerajaan-Mu,” biarlah Surga menyentuh bumi melalui hidup kami.
“Berilah kami rezeki pada hari ini,” ajar kami bergantung kepada-Mu setiap hari: untuk kebutuhan jasmani maupun Roti Kehidupan.
“Ampunilah kami,” lembutkan hati kami, terutama terhadap mereka yang sulit kami ampuni.
Bapa, Putra-Mu menekankan, bahwa pengampunan adalah kunci doa ini. Hati yang tidak mengampuni jadi tertutup; pengampunan membuka hati bagi belas kasih. Saat kami menerima kerahiman-Mu, ajar kami menyalurkannya kepada sesama.
Ketika pencobaan datang, jangan biarkan kami mengandalkan kekuatan sendiri. Lepaskanlah kami dari yang jahat. Dalam setiap kelemahan, ingatkan kami untuk berseru kepada Nama Yesus.
Jangan biarkan doa kami jadi sekadar kata-kata kosong, tapi jadikanlah doa sebagai hati yang sungguh kembali kepada-Mu.
Datanglah kerajaan-Mu, Bapa. Biarlah segala berhala runtuh. Api-Mu kembali menyala dalam hati kami.
Yesus, Raja Kerahiman Ilahi, Engkaulah Andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

