Kelana Kampung dan Kota -63
Simply da Flores
Catatan Suara Semesta

1.
Seberkas Cahaya Mentari

Bumi dan mentari
dua sisi dari satu misteri
seperti suka duka insani
dalam ziarah kelana pribadi
Bumi diam dan selalu berbakti
Mentari terus memberi dan berbagi
Setiap kita berkelana berkreasi mencari
Merajut makna menenun arti diri

Pada lembaran cahaya mentari
ada catatan puisi bumi
Pada percikan helai sinar surya
ada lukisan sajak bumi bercerita
Entah…
adakah yang mau peduli
pada sinar mentari setiap hari
Entah…
adakah yang bersedia menyadari
dengan segores terima kasih

2.
Percikan Ombak Samudra

O, angin…
kau menciumi ragaku dengan sejukmu
lalu arahkan mataku melihat percik ombak
Ada pelangi kecil menari-nari
antara buih dan wajah pasir

Wahai, hamparan pasir pantai
diammu menggoda untuk bertanya
Mengapa pasrah pada kenakalan ombak
Bagaimana bertahan siang malam dihempas

Percikan ombak membasahi tubuhku
Entah ini jawaban atas tanyaku
Ataukah ajakan untuk memeluk pasir
dan coba rasakan asinnya samudra

3.
Rintihan Ibu Bumi

Wahai, manusia…
wajahku dikotori aneka sampah nafsumu
Adakah tersisa waras pikiranmu
Rambutku dan bulu tubuhku kalian cukur
Masihkah mata hatimu melihat
Aku malu dan tersiksa dibakar terik

Wahai, manusia…
Iptekmu semakin canggih berkreasi
Namun badanku dilukai dan terus disiksa
Mengapa dagingku di potong dan perutku rakus dikoyak birahimu
Aku lara menderita dan sakit parah
Di mana mata sanubari jiwamu?