“Dalam ilmu kanuragan atau bela diri, umumnya jurus pamungkas itu digunakan saat terdesak dan kritis. Dalam kehidupan nyata, apa jurus pamungkasmu?”
…
Bagi Guru Digdaya, jurus pamungkas itu tidak sembarangan diturunkan ke murid. Tapi melalui serangkaian pengamatan yang saksama agar ilmu itu tidak disalahgunakan murid untuk tindak kejahatan. Nama baik padepokan dan kehormatan Guru Digdaya itu harus dijaga dan dijunjung tinggi.
Begitu pula dengan murid yang ilmu kanuragannya mumpuni. Dalam menghadapi lawan, ia tidak asal menggunakan jurus pamungkas itu untuk mencederai atau mencelakai. Tapi ia menggunakan ilmu secara terukur untuk mengalahkan musuh.
Sama halnya dengan kita sebagai umat beriman. Dalam menghadapi sikon yang berat dan sulit itu kita tidak boleh loyo, patah semangat, putus asa, dan menyerah kalah. Kita ditempa untuk tetap tenang, berpikir jernih, dan mohon rahmat Tuhan agar kita mampu melewati semua halangan, tantangan, dan pencobaan itu dengan tegar hati.
Jika Guru Digdaya selektif dalam menurunkan ilmu kanuragannya, berbeda dengan Guru Sejati kita, Yesus yang mengaruniai kasih-Nya agar kita pun murah hati.
Api semangat kasih-Nya itu harus dijaga agar senantiasa berkobar-kobar di dada kita, para pengikut-Nya.
Berbeda, bahkan bertolak belakang dengan yang diajarkan oleh Guru Digdaya. Yesus mengajar, mendidik, dan menempa kita agar teguh hati. Tidak untuk membela diri atau membalas mereka yang memusuhi kita, tapi untuk mengasihinya!
Untuk dicermati, “Kejahatan itu menang dua kali: saat menyakiti kita, lalu mengubah kita jadi orang yang ikut membalas dan melukai orang lain.”
Sejatinya jurus pamungkas kita sebagai murid-murid Tuhan Yesus adalah mengasihi mereka yang memusuhi secara totalitas dan doa ikhlas: “Terjadilah padaku menurut kehendak-Mu.”
Gusti nyuwun kawelasan.
Mas Redjo

