Rahmat dan Belas Kasih Mengatasi Keadilan
Seorang pemuda bernama Julio mempunyai dua adik perempuan. Kedua adiknya itu selalu bertengkar, karena hal-hal sepele. Julio menyadari, tugasnya sebagai kakak itu tidak sekadar menengahi kedua adiknya, tapi mengajarkan mereka tentang saling menghormati dan mengasihi. Ia menasihati mereka, “Kalian tidak cukup bersikap adil satu terhadap yang lain, tapi harus ada kasih yang melebihi perlakuan yang adil.”
Sebenarnya yang diperbuat Julio itu cerminan kasih Tuhan Yesus. Tuhan adalah sumber rahmat, kerahiman dan belas kasih yang melengkapi hukum di dunia yang berdasarkan keadilan. Kita membutuhkan keadilan, yang adalah keutamaan sekaligus peraturan. Sebagai keutamaan berarti yang adil ialah sesuai hak dan kewajiban setiap orang itu terjamin. Sebagai peraturan, keadilan itu menuntut adanya hukuman bagi yang bersalah dan pujian atau imbalan bagi yang benar.
Fungsi keadilan dalam memberikan hukuman yang setimpal itu memiliki celah kelemahan, sehingga Yesus bekerja untuk menutupinya. Kalau tidak ditutupi atau diatasi, maka hukum mata ganti mata, dan gigi ganti gigi itu tidak pernah berhenti. Yesus menggunakan rahmat, kerahiman dan belas kasih itu untuk mengatasi kekurangan keadilan di dunia. Inilah yang disebut “misericordia,” yaitu pengampunan dan terjalin rekonsiliasi, sehingga tercipta kedamaian. Di dalam damai orang-orang menerima satu sama lain dan saling melengkapi.
Peristiwa yang terjadi terhadap Nabot, baik harta maupun jiwanya yang dihabiskan oleh penguasa yang jahat itu merupakan sebuah contoh ketidakadilan di dunia ini. Orang atau golongan kecil dan lemah itu selalu kalah. Bagi Yesus dan kita semua pengikut-Nya, jika ketidakadilan ini tidak dihentikan, membalas dendam dan kebencian itu akan tumbuh subur. Untuk menghentikan ini, diperlukan hukum cinta kasih yang melampaui rasa keadilan. Ketika seseorang diampuni dan diterima, ia tidak lagi dilihat sebagai pendosa atau pembuat kekacauan, tapi seorang yang baru.
Mungkin saat ini kita mengalami sulitnya menyelesaikan masalah dengan pengampunan dan belas kasih, tapi tidak berarti hal ini sulit dilakukan. Senyuman, menanggapi dengan tenang, mengampuni, dan mendoakan mereka yang berbuat tidak adil atau jahat terhadap kita, bukan suatu tindakan dari titik nol. Kita tidak baru mau belajar dan berlatih untuk mengampuni. Tapi kita sudah dikaruniai Tuhan untuk melakukannya. Kita hanya perlu keberanian, konsistensi, dan semangat untuk mewujudkannya.
“Tuhan Yesus Kristus, tambahkan keberanian dan kuatkan konsistensi kami untuk melakukan belas kasih dan pengampunan sesuai yang Engkau inginkan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)