“Kasih Yesus menunjukkan kekuatan yang lebih tinggi: bukan kekuatan balas dendam, melainkan kekuatan mengasihi.”
Bapa Surgawi, sabda-Mu menunjukkan, bahwa dosa itu sering tidak dimulai dari kejahatan besar, tapi dari keinginan yang dibiarkan tanpa kendali.
Ahab sudah memiliki istana, kekayaan, dan kuasa. Tapi hatinya terpikat pada kebun anggur milik Naboth. Dari keinginan itu berubah jadi ketamakan, lalu manipulasi, ketidakadilan, dan berakhir pada kematian.
Begitulah dosa bekerja dalam hidup kami. Sering kali dimulai secara halus: dari iri hati, rasa kurang, gengsi yang tersinggung, atau merasa kami pantas mendapatkan sesuatu yang bukan milik kami.
Dalam Injil, Putra-Mu membawa kami lebih dalam lagi. Ia tidak hanya berbicara kepada pelaku kejahatan, tapi juga kepada mereka yang jadi korban ketidakadilan.
“Kamu telah mendengar… mata ganti mata. Tapi Aku berkata kepadamu… jangan melawan orang yang berbuat jahat.”
Tuhan, ajaran ini sungguh tidak mudah.
Naluri kami otomatis membela diri, membalas, menyerang balik, atau setidaknya membuktikan, bahwa kami benar. Ketika dikritik, kami ingin membalas kritik yang lebih pedas. Disakiti, kami ingin orang lain merasakan sakit kami. Bahkan, ketika diperlakukan tidak adil, kami menuntut keadilan itu sekarang juga.
Kasih Yesus menunjukkan kekuatan yang lebih tinggi: bukan kekuatan balas dendam, melainkan kekuatan kasih; bukan kuasa untuk mengontrol, melainkan kuasa untuk berserah; dan bukan kelemahan, melainkan belas kasih yang berakar dalam kepercayaan penuh kepada Bapa.
Pemazmur mengajarkan jalannya. Daud menghadapi orang-orang jahat, tapi ia tidak memilih balas dendam. Ia membawa seruannya kepada-Mu. Ia memilih berdoa daripada pembalasan.
Bapa, ajarilah kami melakukan hal yang sama. Ketika orang lain melukai kami, tolong terlebih dahulu periksa hati kami. Singkapkan “Ahab tersembunyi” dalam diri kami: bagian hati yang masih ingin menggenggam, menuntut, dan selalu ingin menang sendiri.
Ketika kami berhadapan dengan “Jezebel-jezebel” zaman ini: mereka yang melukai, memanipulasi, atau berlaku tidak adil; berilah kami rahmat untuk menanggapi bukan dengan kebencian, tapi dengan kekudusan.
Kami bukan Bunda Teresa, bukan Elia, dan bukan Paulus, melainkan kami milik-Mu.
Jadikan kelemahan kami sebagai kesaksian. Luka kami saluran belas kasih. Jadikan diam kami sebagai nyanyian tentang kebaikan-Mu.
Bantulah kami memandang Yesus, yang dihina, tapi tidak membalas hinaan; menderita, tapi tetap mengasihi, dan yang disalib, tapi menjawab kekerasan itu dengan pengampunan.
Berkati kami untuk mengingat, bahwa harta terbesar kami itu bukanlah dimiliki, melainkan Siapa yang kami miliki.
Yesus, Engkau cukup bagi kami.
Engkaulah warisan dan harta kami.
Tuhan dan Pengantara kami. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

