Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Berpikir itu sulit, itulah sebabnya kebanyakan orang lebih suka menghakimi.”
(Carl Jung)
Mudah Menghakimi, Sulit Memahami
Kita melihat di media sosial banyak orang dengan mudah mengeluarkan pendapat. Banyak yang tiba-tiba jadi komentator ahli kehidupan orang lain. Mulai dari gaya berpakaian, cara berbicara, sampai sikap seseorang di ruang publik tidak luput dari komentar dan penilaian netizen. Tanpa terasa, perlahan-lahan kita jadi terbiasa membuat ‘judgement’. Ada yang melakukan dengan cara halus seperti “hanya mengingatkan…,” ada pula yang terus terang dengan pernyataan keras. Demikian isi paragraf pertama tulisan Eileen Rachman & Emilian Jakob Experd – HR Consultan / SDM Kompas, Sabtu/Minggu, (13/14/6/2026).
Dalam psikologi sosial ada konsep ‘attribution’ pemikiran yang kita miliki tentang orang lain yang dapat membantu kita memahami, mengapa seseorang bertindak atau berperilaku tertentu. Masalahnya, bahwa kita sering mudah menilai seseorang daripada memahami situasinya.
Bahkan kita sering berpendapat, bahwa yang ditampilkan seseorang, itulah karakter aslinya; padahal belum tentu, karena masih ada faktor-faktor lain yang memengaruhinya.
Berasal dari Rasa Insecure (tidak percaya diri atau cemas)
Ternyata pribadi yang mudah menghakimi (judgement) orang lain itu, justru berasal dari sikap tidak percaya diri, atau rasa tidak nyaman dengan dirinya sendiri.
Hal ini berdampak kita takut jadi diri sendiri di hadapan orang lain, karena takut dihakimi, atau menyalahkan kita. Dalam konteks ini, justru kita sudah duluan menolak diri sendiri, sebelum orang lain menolak kita. Demikian Eileen & Emilia.
Untuk itu, di dalam ruang publik ini handaklah kita tidak segera menilai dan menghakimi orang lain, tapi terlebih dulu kita perlu mendengar dan memahaminya.
Berdasarkan konteks inilah, Carl Jung berkata, “Berpikir itu sulit, itulah sebabnya kebanyakan orang lebih suka mengahikimi.”
Dalam sikap ‘menghakimi’ itu memberi rasa superior sesaat, sedangkan ‘memahami’ itu membutuhkan sikap kerendahan hati. Ya, kita sangat doyan memberi ‘label’ daripada ‘menggali konteks.’
Bagaimana agar Kita lebih Memahami daripada Menghakimi?
Eillen & Emilia menawarkan sejumlah pemikiran antara lain:
- Kita perlu belajar untuk membedakan antara fakta dan interpretasi. Semisal, seseorang hanya “diam dalam forum rapat” itu adalah sebuah fakta. “Dia tidak berani tampil,” itu adalah sebuah interpretasi.
- Biasakan membuat ‘situational attibution’ sebelum ‘personality attribution’. Sebelum kita simpulkan, bahwa “seseorang itu marah,” coba bertanya, “Apa yang mungkin sedang terjadi di dalam hidupnya, saat ini?” Ya, karena manusia itu makhluk yang serba kompleks.
- Berusaha untuk memperlambat reaksi kita. Jangan cepat beremosi, karena pemikiran yang buruk sering kali lahir dari sikap emosional.
- Berusahalah agar kita tidak mudah menyela, tapi mendengarkan dulu. Bukankah sering munculnya persoalan itu justru, karena kita enggan mendengar?
- Ingatlah, bahwa pendapat dan pandangan kita itu ‘hanya satu,’ sedang di sisi lain, masih banyak pendapat lain.
Dunia hari ini tidak membutuhkan lebih banyak hakim dadakan. Dunia membutuhkan lebih banyak manusia yang mampu melihat dengan lebih utuh, mendengar dengan lebih tenang, dan memahami dengan lebih dalam. Demikian keduanya mengakhiri tulisan mereka.
Kediri, 15 Juni 2026

