Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Wahai Manusia, Siapakah Engkau.
Engkau dari Mana dan Hendak ke Mana?
(Pertanyaan Abadi)
Pertanyaan Tertua dan Mendasar
Inilah sebuah pertanyaan tertua dan paling mendasar dalam sejarah pemikiran serta peradaban umat manusia. Pertanyaan ini menyangkut ‘identitas, asal-usul, dan tujuan akhir hidup manusia (origin, identity and destiny).
Dalam cahaya iman Katolik dan filsafat Kristiani, berikut ini adalah ‘tiga bagian pertanyaan agung’ tersebut.
- 1. Manusia, Siapakah Engkau? (Identitas)
Engkau bukanlah sekadar sebagai makhluk biologis, bukan juga sekadar setitik debu yang sadar, serta bukan pula produk evolusi buta. Tapi …
- Engkau adalah Imago Dei (Citra Allah): Manusia diciptakan segambar dan serupa dengan Allah (Kejadian 1: 27). Hal ini berarti di dalam diri manusia terdapat jejak intelek, kehendak bebas, dan kapasitas untuk mengasihi seperti Tuhan mengasihi kita.
- Engkau adalah Misteri yang Dicintai: Manusia dikenal secara personal oleh Sang Pencipta sebelum manusia itu dibentuk di dalam rahim Ibunya (Yeremia 1: 5). “Namamu telah terulis di telapak Tangan Tuhan.”
- Engkau adalah Makhluk Paradoks: Manusia itu terdiri dari tanah liat (ia lemah, fana, dan terbatas), dan nafas kehidupan Ilahi (roh, abadi, rindu, akan yang terbatas). Kamu adalah ’jembatan’ antara dunia misteri dan dunia roh. “Siapakah aku? Aku adalah anak yang dikasihi Bapa, ditebus oleh Putera, serta Kediaman Roh Kudus.”
- 2. Manusia, Dari Manakah Engkau? (Asal-usul)
Manusia itu tidak datang dari ketiadaan yang hampa, juga bukan dari kekacauan kosmik.
- Dari Kasih Allah: Alam semesta dan diri manusia lahir bukan karena Tuhan kesepian atau butuh sesuatu, melainkan karena kelimpahan kasih Tuhan. Tuhan telah menciptakan manusia, agar ada “yang lain” untuk dikasihi.
- Dari Rencana Abadi: Keberadaan manusia adalah sebagai buah dari keputusan cinta Tuhan yang disengajakan. Manusia itu adalah gagasan terindah di dalam hati Tuhan yang akhirnya jadi nyata.
- Dari Tanah dan Nafas-Nya: Secara fisik manusia itu berasal dari bumi (humus/human), tapi esensi manusia berasal dari hembusan nafas Tuhan. “Aku ini berasal dari hati Tuhan yang berdenyut dalam kasih.”
- 3. Manusia, Hendak ke Manakah Engkau? (Tujuan Akhir / Destiny).
Hidup ini bukanlah sebagai lingkaran setan tanpa tujuan, melainkan sebuah ziarah pulang (homecoming).
- Menuju Kepenuhan Sukacita (Surga): Adapun tujuan akhir manusia adalah ‘Visio Beatifica’ (pandangan wajah Allah). Manusia diciptakan untuk bersatu kembali dengan Sumber Kehidupan, bukan untuk hilang, melainkan untuk dipenuhi kemuliaan.
- Menuju Transformasi Cinta: Di sepanjang jalan manusia dipanggil untuk semakin mirip Kristus: mengasihi tanpa pamrih, melayani tanpa menghitung, dan mengampuni tanpa batas.
- Menuju Kebagkitan: Kematian bukanlah akhir, melainkan pintu gerbang. Tubuh manusia akan dibangkitkan dan dimuliakan, dan seluruh ciptaan akan dipulihkan dalam Kristus.
Intisari Filosofi Spiritualitas
Jika ditinjau dalam satu kalimat efektif, maka:
“Manusia adalah makhluk fana yang dicintai secara abadi, yang berasal dari kasih, hidup untuk mengasihi, dan menuju kepada kasih itu sendiri.
Santo Agustinus telah merangkumnya dengan indah: “Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya Tuhan, dan hati kami gelisah sebelum beristirahat di dalam Engkau.”
Jadi, jawabannya adalah:
- Siapakah Manusia itu? Dia Anak Allah!
- Dari Manakah Manusia itu? Dari Tangan Sang Pencipta!
- Ke Manakah Manusia itu? Kembali ke Pelukan Bapa.
Kediri, 14 Juni 2026

