“Syukur dan sehat itu dekat.” -Rio, Scj
Beberapa waktu lalu, saat memberi minyak suci dan mendoakan orang sakit, permenungan sederhana ini muncul dalam hati dan kepala. Suatu yang sering kita lupakan, bahkan diabaikan.
Ketika tubuh ini masih kuat dan langkah masih cepat, kita sibuk mengejar harta, jabatan, nama baik, kesuksesan, keinginan, dan semua yang menyukakan. Kita sering lupa, bahwa kesehatan adalah kekayaan yang sesungguhnya. Ketika tubuh terbaring lemah tidak berdaya, barulah kita menyadari, bahwa satu nafas yang lancar itu lebih berharga dari tumpukan harta.
Rumah sakit mengajarkan, bahwa hidup ini bukan tentang siapa yang paling kaya dan hebat, melainkan siapa yang paling mudah bersyukur. Bukan tentang seberapa tinggi kita berdiri, melainkan seberapa banyak kebaikan yang kita taburkan.
Jika hari ini kita masih bisa berjalan, bersyukurlah; masih bisa bekerja, bersyukurlah; bisa makan enak dan tidak ada pantangan, bersyukurlah. Kita masih bisa memeluk orang yang disayangi dan dicintai, bersyukurlah; dan kita masih bisa mendengar suara keluarga, bersyukurlah. Sebab hidup ini bukan tentang menunggu badai berlalu, melainkan belajar untuk mensyukuri setiap detik yang masih Tuhan berikan.
Sehat itu anugerah. Waktu adalah berkah untuk bertumbuh dan berbuah. Bersyukur itu indah. Karena kehidupan kita adalah panggilan untuk berakar, bertumbuh, dan menghasilkan buah.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

