“Rezeki dinilai dari sekadar materi itu mudah hilang sirna. Jika berupa kebijaksanaan akan membawa kita kepada keabadian.” -Mas Redjo
Ketika kita dikecewakan, didholimi, dan dikhianati, keinginan kita untuk membalas perlakuan buruk itu adalah lumrah. Tapi faktanya: tidak baik! Keinginan membalas, apalagi mendendam itu datang dari yang jahat, dan sekaligus membebani hidup kita.
Berbeda hasilnya adalah, ketika kita membalas perlakuan buruk itu dengan memaafkan, mengasihi, dan mendoakan mereka. Kita tidak menyimpan energi jahat itu di dalam pikiran dan hati ini, tapi untuk dimaknai dengan nilai-nilai surgawi.
Menjaga kemurnian hati dengan nilai-nilai surgawi adalah ciri khas iman Kristiani yang mengimani Tuhan Yesus.
Awalnya adalah sangat berat dan menyiksa jiwa, ketika dikecewakan, didholimi, dan dikhianati oleh orang terdekat. Hal ini terjadi tidak sekali-dua, ketika pemasok barang itu bergerilya mengambil langganan toko-toko dengan berjuta alasan.
“Pabrik tidak punya etika bisnis, ya, pindah ke lain hati,” kata E santai. Ia yang distributor makanan ringan itu pindah ke pabrik lain. Hutangnya dilunasi agar tanpa ganjelan dan beban. “Jika tidak mau memanen yang buruk, ya, kita jangan menanamnya!”
Pengalaman E terjadi pada saya juga. Ketika produsen makanan beku (frozen food), MF itu meminta verifikasi halal kemasan yang dipesannya. Konyol dan aneh, tiba-tiba MF langsung order ke pabrik kemasan itu tidak melalui saya lagi.
“Saya tersinggung dan kecewa?”
Awalnya, iya. Ketika pabrik itu ditanya, mengelak dengan seribu alasan. Tidak peduli, meskipun hubungan bisnis telah lebih dari 2 dasawarsa.
“Siapa yang salah?”
Ketimbang mencari kambing hitam. Lebih bijak itu saya memperbarui cara berpikir dan memandang hidup dengan bijaksana dan rendah hati agar saya tidak dijajah materi.
Sejatinya yang salah itu, ketika kita tidak mau memaafkan dan mengasihi mereka yang khilaf. Sedang yang khilaf tidak berani untuk meminta maaf.
Ikhlas itu seluas kasih-Nya!
Mas Redjo

