Allah menganugerahkan Putra Tunggal-Nya jadi manusia sama seperti kita sebagai silih atas dosa-dosa kita. Hal ini merupakan perwujudan kasih-Nya yang besar agar kita bisa mengerti dan belajar tentang kasih, sehingga kita dapat jadi lebih saling mengasihi satu sama lain secara universal.
Allah telah memilih Israel sebagai umat pilihan-Nya, bukan karena kelebihan mereka, melainkan karena kasih Allah sendiri. Hal ini menunjukkan, bahwa Allah mencintai kita tanpa syarat. Allah adalah kasih dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Kasih Allah mendorong kita untuk saling mengasihi dan hidup dalam kasih itu.
Dalam Injil, Yesus menawarkan kelegaan dan ketenangan bagi mereka yang datang kepada-Nya. Kita harus mengambil kesempatan ini untuk menyerahkan beban hidup kita kepada-Nya dan menerima kasih-Nya. Yesus berkata, “Datanglah kepada-Ku, kamu semua yang letih lesu dan berbeban berat. Aku akan memberikan kelegaan kepadamu.” Ini merupakan undangan bagi semua orang yang merasa terbebani.
Kita harus berusaha memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati seperti Yesus. Inilah kunci untuk kita mengalami ketenangan dan kelegaan yang Dia tawarkan. “Belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan kamu akan mengalami ketenangan.” Inilah ajakan untuk belajar dari sikap Yesus yang lembut dan rendah hati. Dengan demikian, kita mau mendalami kasih Allah dengan mengasihi sesama, dan datang kepada Yesus dalam keputusasaan. Kita mau belajar dari Yesus dan berusaha untuk memiliki hati yang lemah lembut dan rendah hati.
“Ya, Bapa, nyalakanlah api cinta kasih-Mu dalam hati ini agar kami dimampukan untuk memberikan kesaksian atas cinta kasih-Mu kepada sesama. Amin.”
Ziarah Batin

