“Ketika Roh Kudus memenuhi hati seseorang: menyemangati menjadi pewartaan, dan berdamai menjadi ibadah.”
Allah yang Maha Rahim, Yesus
Putra-Mu melanjutkan khotbah-Nya di atas bukit sebagai Musa yang baru. Ia tidak sekadar menjelaskan Hukum Taurat. Ia menyingkapkan makna terdalamnya. Perintah: “Jangan membunuh” ternyata bukan hanya soal tindakan lahiriah. Melainkan Yesus mengajak kami melihat lebih dalam, ke dalam hati tempat kemarahan, kebencian, kesombongan, gosip, dan penghinaan bermula. Di situ Ia mengajarkan, bahwa kepenuhan hukum ini bukan sekadar menghindar dari mencelakakan atau merugikan orang, tapi untuk jadi alat kasih-Mu yang memberi kehidupan.
Engkau menghendaki lebih dari sekadar ketaatan lahiriah. Engkau menghendaki hati yang diubahkan.
Yesus mengajarkan, bahwa kekudusan sejati itu bukan hanya terlihat dari yang kami lakukan, melainkan dari yang kami pikirkan, rasakan, dan simpan di dalam hati. Ia mengundang kami mengalami metanoia: pembaruan cara berpikir dan cara memandang hidup. Dalam diri Yesus, yang Ilahi dan manusiawi telah bertemu. Bila hati ini tetap tertutup, kami bisa gagal melihat kebaruan yang sedang Engkau kerjakan di tengah kami.
Gereja merayakan St. Barnabas, Rasul, yang namanya berarti “anak penghiburan” atau “anak dorongan.” Dipenuhi Roh Kudus dan iman, ia mampu melihat harapan, ketika orang lain melihat masalah. Ketika para Rasul masih takut pada Saulus, Barnabas menerima dan memperkenalkannya sebagai saudara. Ketika Gereja di Antiokhia sedang bertumbuh, Barnabas menguatkan umat agar tetap setia kepada Tuhan dengan sepenuh hati. Melalui dorongan dan teladannya, banyak orang makin dekat kepada Kristus.
Bapa, betapa indahnya bila kami hidup seperti Barnabas. Tapi sering kali kata-kata kami lebih banyak melukai daripada membangun. Kami mudah mengkritik, tapi lambat memahami. Kami kadang menyakiti sesama melalui gosip, sindiran, candaan yang merendahkan, sikap mengabaikan, atau bahkan dengan menjauhkan seseorang dari kesempatan yang seharusnya ia miliki.
Ajarlah kami, bahwa berdamai dengan sesama bukanlah penghalang ibadah, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri. Berilah kami kerendahan hati untuk meminta maaf terlebih dahulu, bahkan ketika maksud kami baik, tapi perkataan kami telah melukai hati orang lain. Tolonglah kami mencabut akar kepahitan ini sebelum bertumbuh jadi kebencian.
Roh Kudus yang memenuhi St. Barnabas, penuhilah kami juga. Ambillah talenta, pekerjaan, keluarga, pelayanan, dan percakapan sehari-hari kami, lalu penuhi semuanya dengan rahmat-Mu. Jadikan kami pembawa pengharapan, pendamai, dan penguat bagi sesama. Semoga setiap orang yang berjumpa dengan kami dapat merasakan kelembutan dan kasih Kristus.
Sebab Engkaulah Kasih itu sendiri, dan setiap tindakan kasih yang tulus adalah partisipasi dalam hidup Ilahi.
Demi Kristus Tuhan kami. Amin.
🕊️Sebelum membawa persembahan ke altar, tanya pada Roh Kudus: “Siapa yang bisa kusemangati, pada siapa aku perlu berdamai?”
Akan nyata bahwa menjadi kudus itu bisa mulai dari hal sederhana yang memberi kehidupan dalam hati sesama.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)

