Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Engkau telah menciptakan kami bagi-Mu, ya, Tuhan, dan hati kami gelisah sebelum beristirahat di dalam Engkau”
(Santo Agustinus)
Kerinduan Sejati
Sesungguhnya, apa yang sangat “dirindukan oleh hati dan jiwa kita” di zaman yang tak tentu ini, saat dunia ini justru sangat sibuk menawarkan aneka kebahagiaan semu? Ke mana kita memalingkan wajah dan spirit kemanusiaan ini?
Apa sesungguhnya yang paling dirindukan oleh nurani anak-anak manusia di zaman ini?
- 1. Kedamaian Batin (Inner Peace)
Di tengah arus deras banjir informasi, kebenaran akan masa depan, dan tekanan kompetisi, jiwa manusia justru rindu untuk sejenak berhenti dan merasa tenang. Suatu ketenangan yang mengalir dari dalam diri, sebuah kepastian, bahwa semua akan baik-baik saja, meskipun badai dasyat sedang melanda.
- 2. Koneksi yang Otentik (Authentic Connection)
Riil, bahwa kita ini hidup di era yang paling terhubung secara digital, sekaligus juga yang paling terputus secara emosional. Padahal sejatinya hati manusia sangat rindu untuk:
- Ingin didengar, tanpa mau dihakimi!
- Dilihat apa adanya, bukan dari filter media sosial atau topeng kesuksesan semu.
- Ingin dicintai bukan karena yang dimiliki, atau karena siapa kita ini. Seperti rindu kepada sahabat sejati, pasangan hidup yang setia, dan komunitas yang mau menerima kelemahan kita.
- 3. Makna dan Tujuan (Meaning and Purpose)
Kini banyak orang merasa terjebak dalam rutinitas bekerja, bayar tagihan, dan ulangi. Sementara hati mereka berteriak lantang sambil menanyakan: “Untuk apa dan mengapa semua ini?”
- 4. Pengampunan dan Penerimaan Diri (Self-Acceptance)
Di balik rasa percaya diri yang sering bersalah, merasa malu, dan perasaan, bahwa diri ini tidak cukup baik. Mereka justru sangat rindu untuk bisa memaafkan dirinya sendiri atas kesalahan di masa lalu.
- 5. Harapan (Hope)
Di tengah ketakpastian global (peperangan, perubahan ekstrem iklim, dan krisis ekonomi), manusia justru kian rindu akan seberkas cahaya di ujung terowongan nan gelap pekat itu.
Refleksi Spiritual
Jika dilihat lebih dalam lagi, semua kerinduan itu (rasa damai, koneksi yang ideal, makna hidup, penerimaan diri, dan sekeping harapan), pada hakikatnya, semuanya itu adalah gema dari kerinduan yang terdalam kepada Tuhan.
“Ya, Tuhan, hati kami gelisah sebelum kami beristirahat pada-Mu!” Demikian kerinduan terdalam dari Santo Agustinus.
Konklusi
Jadi, sesungguhnya hal yang paling dirindukan ialah, ketika manusia itu rindu untuk pulang atau kembali kepada sumber asalnya!
Kediri, 11 April 2026

