Tuhan bersabda, “Janganlah kamu mengira, bahwa Aku datang untuk menghapuskan Hukum Taurat atau para Nabi; Aku datang bukan untuk menghapuskan, melainkan untuk menggenapi” (Mat 5: 17). Yesus tidak menolak Taurat, hukum suci dari Allah kepada Israel. Sebaliknya, Dia menyempurnakan makna terdalamnya. Hukum itu diberikan untuk membimbing orang kepada Tuhan, tapi ternyata orang Yahudi hanya berfokus pada ketaatan eksternal. Ia melampaui aturan dan untuk transformasi hati manusia.
Taurat berisi perintah-perintah yang mengajarkan orang berelasi sepantasnya dengan Tuhan dan sesama. Yesus mengajarkan, bahwa hanya mengikuti peraturan saja tidak cukup. Seseorang mungkin menghindari melanggar hukum dan masih marah, sombong, cemburu, atau benci di dalam dirinya. Yesus memenuhi Hukum Taurat dengan memanggil para pengikut-Nya untuk mengasihi Tuhan dengan sepenuh hati dan mengasihi sesama dengan tulus. Kasih itu jadi inti dari setiap perintah.
Ada seorang guru musik yang memberi seorang siswa selembar notasi musik. Pada awalnya, siswa itu dengan hati-hati mengikuti setiap nada persis seperti yang tertulis. Ini perlu dan baik. Tapi tujuan guru itu bukan hanya agar siswa membaca catatan dengan benar. Melainkan tujuannya adalah agar siswa itu pada akhirnya memahami keindahan, perasaan, dan semangat musik. Dengan cara yang sama, Taurat menyediakan notasi dan nada, sementara Yesus mengungkapkan melodi yang sesungguhnya. Dia mengajari kita tidak hanya yang harus dilakukan, tapi juga mengapa kita melakukannya.
Pesan ini menantang kita semua. Kita dapat dengan setia menghadiri Misa, berdoa, dan memenuhi tanggung jawab kita. Tapi Yesus mengundang kita untuk memeriksa hati kita. Apakah kita memperlakukan orang lain dengan baik? Apakah kita mengampuni mereka yang menyakiti? Apakah kita menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang berjuang? Penggenapan hukum itu tidak hanya diukur dengan tindakan, tapi juga dengan kasih yang memotivasi mereka.
Bagi komunitas religius, keluarga, dan tempat kerja, ajaran ini sangat penting. Kehidupan masyarakat tidak dapat berkembang melalui peraturan saja. Aturan itu membantu menjaga ketertiban, tapi persaudaraan sejati tumbuh, ketika anggota mempraktikkan kesabaran, pengertian, dan saling peduli. Kasih membimbing tindakan kita, hukum tidak lagi jadi beban, tapi jalan menuju persekutuan yang lebih dalam dengan Tuhan dan satu sama lain.
Yesus mengundang kita melampaui sekadar ketaatan ke dalam pemuridan yang otentik. Dia memanggil kita untuk memenuhi semangat Hukum Taurat dengan menjalani kehidupan yang berakar pada kasih. Setiap kali kita memilih belas kasihan daripada penghakiman, pengampunan daripada kebencian, dan pelayanan daripada kepentingan pribadi. Kita berpartisipasi dalam pemenuhan Taurat seperti yang dimaksudkan Yesus. Di dalam Dia, Hukum itu mencapai kesempurnaannya, karena kasih jadi ukuran segala sesuatu.
“Ya, Tuhan yang berbelas kasih, kuatkanlah semangat kasih dan pelayanan kami agar kami lebih setia pada ajaran dan perintah-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)

