“Diam itu kadang lebih baik daripada bersuara.” -Rio, Scj.
Kabut tipis menyelimuti lereng Gunung Tanggamus. Tampak dua burung kutilang bertengger di sebuah batu. Yang satu aktif berkicau, yang satu diam sambil menata bulu dan waspada. Hap… seekor kucing menerkam seekor burung yang sibuk berkicau itu, tapi tidak waspada.
Pemandangan sederhana yang sarat makna. Hidup juga seperti itu. Ketika kita terlalu asyik berbicara, ngegibah, ngerumpi, dan membicarakan kejelekan orang lain, kita sering terlena dan termakan oleh omongan sendiri. Begitulah hidup.
Ada kalanya diam itu lebih baik daripada bersuara. Lebih bijak itu diam, ketika ucapan bisa merusak persahabatan, kita tidak tahu fakta kebenarannya, hati ini sedang panas oleh amarah, dan ketimbang perkataan kita melukai orang lain yang mendengarnya.
Orang pendiam itu bukan berarti takut bersuara, melainkan ia menyimak dan selektif dalam berkata-kata. Sejatinya hidup ini sederhana untuk mengurangi banyak kata dan drama, tapi perbanyak karya. Jauhi toxic, dekati orang yang baik. Hidup itu terlalu singkat untuk mengurusi omongan orang. “Be best yourself!”
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj

