“Tuhan menciptakan kita dan menginginkan agar kita jadi corong pewartaan cinta kasih-Nya, tapi kadang kita lebih suka mengubahnya jadi corong berita hoaks yang bukan hanya merugikan orang lain, melainkan akhirnya menghancurkan dan mematikan diri sendiri.”
Dalam Injil, Yesus memberikan peringatan kepada mereka yang memutarbalikan atau mengubah Firman Tuhan demi kepentingannya atau menyebarkan berita hoaks dalam ranah rohani. Kata-Nya, “Siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, sekali pun yang paling kecil, dan mengajarkannya demikian kepada orang lain, ia menduduki tempat yang paling rendah di dalam Kerajaan Allah.” Peringatan Yesus ini sejalan dengan pengalaman kita di Indonesia, di mana banyak orang menjual ayat-ayat suci demi kedudukan, uang, dan harta. Para penjual itu sangat tahu kondisi psikologis orang Indonesia yang memiliki fanatisme buta dalam hal-hal yang berbau keagamaan, sehinggaa mudah untuk dimanfaatkan.
Kita disadarkan untuk kembali ke jalan benar, kepada keaslian diri kita sebagai ciptaan Tuhan dengan memperhatikan beberapa hal ini:
- 1) Kita diciptakan oleh Allah untuk jadi corong cinta kasih-Nya kepada dunia. jangan biarkan mulut, bibir dan kata-kata kita jadi corong penyebar berita bohong atau palsu kepada orang lain. Akibatnya sangat fatal bagi mereka yang dibohongi maupun orang lain yang mendengarnya dan percaya akan berita itu;
- 2) Bila Tuhan percaya kepada kita untuk jadi corong pewartaan cinta kasih-Nya, maka jagalah kepercayaan itu baik-baik agar orang yang mendengarnya bisa mendengar suara Allah yang menegur, menasihati, menghibur dan menguatkan mereka;
- 3) Jangan pernah takut menyuarakan kebenaran, keadilan, dan kejujuran. Karena semuanya itu memang dibenci oleh manusia tapi sangat disukai oleh Allah;
Akhirnya, selalu siapkan hati kita untuk menerima penolakan, tantangan, dan ancaman, bila berita yang kita sampaikan itu adalah berita benar. Jangan biarkan kebohongan merasa sombong di hadapan kebenaran. Kita dipercaya oleh Tuhan untuk jadi pembela kebenaran, bukan kebohongan!
Monsignor Inno Ngutra, Pr

