Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas! Jadi karena engkau suam-suam kuku, dan tidak dingin atau panas, Aku akan memuntahkan engkau dari mukut-Ku.”
(Wahyu 3: 15-16)
Siapakah Anda dan juga saya ini? Adakah di antara kita berdua yang memiliki sikap acuh tak acuh? Ketahuilah, betapa perihnya sikap suam-suam kuku ini!
Suam-suam Kuku
Sikap acuh tak acuh dalam istilah spiriritual sering disebut dengan keadaan ‘suam-suam kuku’ (Lukewarm). Sebuah paradoks yang menarik dan perih, sekaligus sangat mengkhawatirkan. Dalam tradisi filsafat dan teologi, sikap ini dianggap lebih berbahaya daripada sikap yang jelas-jelas panas.
Mari Kita Membedahnya dari Beberapa Sudut Pandang
- 1. Dari Perspektif Spiritual: Bahaya Sebuah Zona Nyaman
Kita dapat kritis bertanya, “Mengapa Tuhan (lewat kebenaran universal), justru ‘memuntahkan’ sikap suam-suam kuku ini? (Wahyu 3: 15-16).
- Ketiadaan Komitmen: Pribadi yang ‘panas’ mempunyai gairah dan cinta; pribadi yang ‘dingin’ juga mempunyai pendirian (meskipun mungkin salah). Tapi, pribadi yang suam-suam kuku tidak punya arah.
- Ia justru berada di zona ‘abu-abu’, ingin aman tanpa risiko, diakui, tapi tanpa mau berkorban.
- Ilusi Keselamatan: Sikap acuh tak acuh sering kali merupakan topeng ketakutan. Kita takut untuk sepenuhnya mencintai (karena bisa sakit hati) dan takut untuk sepenuhnya menolak (karena bisa dimusuhi). Jadi, kita akhirnya memilih untuk ‘tidak merasa apa-apa’. Inilah yang disebut ‘kematian jiwa secara perlahan-lahan.’
- 2. Perspektif Filosofis dan Eksistensial
Kejahatan Biasa (The Banality of Evil): Filsuf Hannah Arend memperkenalkan konsep ‘the banality of evil’, di mana kejahatan besar sering kali bukan dilakukan oleh monster yang sadis, melainkan oleh orang-orang yang bersikap acuh tak acuh, yang hanya mengikuti arus umum tanpa berpikir kritis atau pun berempati.
- Ketidakpedulian sebagai Kekerasan Pasif: Kala kita melihat ketidakadilan, kemiskinan, atau penderitaan, lalu kita memilih untuk ‘acuh tak acuh,’ kita sebenarnya sedang jadi bagian dari masalah tersebut. Sikap diamnya orang baik itu adalah bahan bakar bagi kelanggengan keburukan ini.
- Hilangnya Makna Hidup: Eksistensialis seperti Jean Paul Sartre menekankan, bahwa manusia dikutuk untuk bersikap bebas. Memilih untuk ‘tidak memilih’ alias acuh tak acuh adalah bentuk pelarian dari tanggung jawab keberadaan kita. Hidup ini jadi hampa, justru karena tidak ada nilai yang diperjuangkan.
- 3. Perspektif Psikologis: Mekanisme Pertahanan Diri
Sikap acuh tak acuh sering kali bukan karena seseorang itu jahat, melainkan karena:
- Kelelahan Empati (Compassion Fatigue): Terlalu banyak informasi negatif di dunia ini yang membuat orang mati rasa (Numb), sebagai cara untuk bertahan hidup.
- Rasa tidak Berdaya: Sadar, bahwa tindakan kecil tidak akan mengubah apa pun, sehingga manusia akhirnya memilih untuk bersikap menutup mata.
- Narsisme Halus: Manusia hanya fokus pada kenyamanan diri sendiri (Asal saya enak, urusan orang lain itu bukan urusan saya).
Mari Berefleksi: Mengapa ‘Suam-suam Kuku’ itu Merugikan?
Bayangkan, bahwa di hadapan Anda ada segenangan air!
- Air Panas, ternyata bisa menyembuhkan, membersihkan, dan bahkan memberi kehidupan (secangkir teh hangat, misalnya).
- Air Dingin, bisa menyejukkan, memadamkan dahaga, dan mengawetkan.
- Air Suam-suam Kuku? Ia bisa apa? Ia justru tidak berguna. Ia tidak mampu membersihkan noda membandel, tidak bisa menyegarkan, dan ia justru jadi tempat berkembangnya berbagai bakteri. Juga rasanya pun hambar dan bahkan menjijikkan.
Ia memang hadir secara fisik, tapi justru absen, secara jiwa dan batiniah. Ia juga mampu mendengar jeritan tangisan pilu, tapi hatinya tidak turut bergetar. Bahkan ia melihat kebenaran, tapi lidahnya membisu.
Konklusi serta Ajakan!
- Sikap acuh tak acuh itu adalah penyakit kepudaran semangat!
- Apakah kita sedang mati rasa?
- Marilah kita pecahkan tembok ketidakpedulian dengan satu tindakan kecil saja, buka mata, buka hati!
Kediri, 10 Juni 2026

