1.
Dari Tempat Sampah
Hei, kalian manusia,
mengapa membuang kebenaran di sini
Nasi dan lauk pauk MBG itu
dibeli dengan uang rakyat
Bukan untuk jadi sampah
karena tidak sesuai selera anak
karena menu dan pengolahan demi mendapat keuntungan besar
Jangan rayakan kebohongan dan banggakan korupsi
Para orangtua paling tahu memberi makanan sehat bagi anak-anaknya
Bukan demi kesombongan palsu
Bukan demi merampok anggaran negara
Wahai kalian manusia,
Mengapa jenazah harkat martabat
dibungkus plastik dan dibuang di sini
Mengapa wajah kejujuran penuh luka bernanah
Untun apa sosok pribadi kewarasan terus dimutilasi
Apa sebabnya hati nurani kemanusiaan kering kerontang
serta sanubari jiwa keimanan dibutakan dan mati
Lalu…
setiap hari kalian buang ke tempat sampah
Agar jadi sahabat lalat dan kecoa
Agar dimakan bakteri, ulat dan cacing
Benarkah manusia sudah mangimani zaman edan
karena pikirannya tak waras
demi puaskan semua selera dan gengsi?
2.
Dari Trotoar Jalanan Kota
Kami geladangan berpesta lara
bersama debu jalanan di antara deru kendaraan
Entah mengapa dan sampai kapan
Kami pengangguran dan mengemis
Menadah harapan di sejuta wajah
Merebut remah di lampu merah kota metropolitan
Menatap gedung megah menjulang
dari tempat sampah dan aroma comberan
Ke mana mengadu dan mengapa kemiskinan tak sirna?
Kami para buruh dan pedagang asongan
dikejar aturan memburu recehan
Karena kebutuhan hidup tak bisa ditunda
Utang rentenir sering terpaksa dipilih
lantaran nasib keluarga jadi taruhan
Sedangkan tempat kerja berkuasa membuat aturan sesukanya
dan ketika dipecat kami tak mampu bersuara
Sedangkan para penguasa dan pemodal
terus berpesta dan berkolusi
tertawa terbahak diatas lara derita
3.
Dari Kampung Pelosok Negeri
Hutan kami semakin gundul dan sirna
Kami tergusur dan galau merana
Entah…
ke mana mencari sumber makanan
di mana akan mendapat air bersih
bagaimana berladang dan meramu untuk rezeki keluarga
Masihkah bisa berburu, mengambil obat dan aneka keperluan adat budaya
Di mana tempat ritual dan para arwah damai
serta margasatwa akan tinggal lestari
Katanya…
“kami tidak ada hak atas hutan dan tanah warisan leluhur…
Ini semua milik negara
serta dikuasai pejabat dan dikelola pengusaha”
Entah untuk apa dan siapa?
Tanah dikorek dan dikuras isi kekayaannya
Lubang menganga dan bukit gunung perlahan hilang
Sungai kering penuh lumpur berbau tengik
Entah mengapa aneka racun menebar
dan banyak penyakit aneh menyerang kami
“Ini demi pembangunan dan kesejahteraan bangsa”
Banyak pekerja asing datang silih berganti
Ratusan ribu tentara hadir siang malam
katanya demi mengamankan program pembangunan nasional
Deru ribuan mesin alat berat
merobek kesunyian mengoyak hutan dan wajah bumi
Suara kami tak mampu menghalau
Nasib kami galau merana dan mati
Inikah kemerdekaan dan “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?”

